Penjelasan perjalanan setelah kematian. Berikut ini ringkasan tentang perjalanan setelah mati. 

Kubur. Kubur adalah awal persinggahan menuju akhirat, ia adalah lubang yang dipenuhi api bagi orang kafir dan munafik, dan menjadi taman bagi orang mukmin. Telah disebutkan dalam beberapa hadits tentang penyebab seseorang disiksa ketika di kuburnya, di antaranya: tidak bersih dalam buang air, melakukan namimah (adu domba), melakukan ghulul (berkhianat dalam harta ghanimah), berdusta, tidur sampai meninggalkan shalat, berzina, memakan riba, dan lain sebagainya. 

Adapun amalan yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur di antaranya adalah amal saleh yang ikhlas karena Allah, berlindung kepada Allah dari siksa kubur, dan membaca surat Al Mulk. Sedangkan orang yang dilindungi dari azab kubur adalah orang yang mati syahid, orang yang menjaga perbatasan, orang yang meninggal pada hari Jum'at, orang yang meninggal karena sakit di perutnya, dan sebagainya.

Peniupan sangkakala. Sangkakala berbentuk tanduk yang besar yang telah diletakkan oleh Malaikat Israfil ke dalam mulutnya. Saat ini ia sedang menunggu perintah dari Allah untuk ditiupkan. Tiupan pertama yang dilakukan Malaikat Israfil membuat terkejut semua yang di langit dan di bumi, kemudian ditiup lagi lalu matilah mereka semua selain yang dikehendaki Allah. Setelah alam ini hancur dan berlalu 40 (tidak disebutkan dalam hadits, apakah 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun), maka ditiup lagi oleh malaikat Israfil, dan ketika itu manusia pun bangkit kembali.

http://www.ponpeshamka.com/2020/12/penjelasan-perjalanan-setelah-kematian.html

Kebangkitan. 
Allah Subhaanahu wa Ta'ala menurunkan hujan kepada manusia yang telah mati, dimana tidak ada yang tersisa dari jasad mereka selain tulang ekornya, maka tumbuhlah jasad mereka dan jadilah mereka manusia kembali. Dan mereka dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum disunat, dan dibangkitkan sesuai amal mereka.

Pengumpulan manusia di padang mahsyar. Selanjutnya, Allah mengumpulkan manusia untuk dihisab dalam sehari yang lamanya 50.000 tahun, sehingga dunia yang mereka tempati sebelumnya tampak sebentar, lalu didekatkanlah matahari kepada mereka sehingga jaraknya 1 mil, dan manusia pun merasakan kepanasan sehingga mengucurlah keringat mereka dan membanjiri mereka sesuai amalnya, di antara mereka ada yang keringatnya membanjirinya sampai semata kaki, ada yang sampai selutut, ada yang sampai sepinggang dan ada yang dekat dengan mulutnya.

Ketika itu, orang-orang lemah dan orang-orang sombong bertengkar, pemimpin dan pengikut bertengkar, orang kafir bertengkar dengan kawannya dan dengan setan, dan satu sama lain saling melaknat, bahkan orang yang zalim sempat menggigit jari-jemarinya karena menyesali perbuatannya.

Pada saat itu, dihadapkan kepada manusia neraka Jahannam yang dalam dan besar yang memiliki 70.000 kendali, dimana masing-masing kendali ditarik oleh 70.000 malaikat. Maka ketika orang kafir melihatnya, ia ingin sekali menebus dirinya dengan anaknya, dengan istrinya dan saudaranya, dan dengan keluarganya, bahkan dengan semua orang yang ada di bumi. Mereka juga berkeinginan, jika sekiranya dahulu mereka menjadi tanah. 

Adapun para pelaku maksiat, jika dahulu di dunia termasuk orang yang enggan membayar zakat, maka hartanya akan dibuat lempangan lalu dipanaskan kemudian dipakai untuk menyeterika dahinya, lambungnya, dan punggungnya. Jika dahulu di dunia sebagai orang yang sombong, maka akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut. Dan ketika itu, orang yang khianat, orang yang melakukan ghulul, dan orang yang merampas harta manusia akan dipermalukan, dan orang yang mencuri datang dengan barang curiannya, dan tampaklah ketika itu semua yang sebelumnya tersembunyi. Sedangkan orang-orang yang bertakwa, maka mereka tidak ditimpa kecemasan, bahkan hari yang lama itu akan berlalu sebentar bagi mereka seperti antara waktu Zhuhur dan Ashar. 

Syafaat. Ketika manusia merasakan kepanasan di bawah terik matahari yang jaraknya hanya satu mil, maka mereka mendatangi para nabi, dari mulai Nabi Adam hingga para nabi ulul 'azmi agar menjadi pemberi syafaat bagi mereka di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. Inilah syafaat 'uzhma (yang paling agung). 

Semua para nabi ulul 'azmi menyatakan ketidaksiapannya, selain Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau siap untuk itu, maka Beliau pergi menghadap Allah 'Azza wa Jalla dan bersujud lama di hadapan-Nya, kemudian Allah menyuruhnya untuk mengangkat kepalanya, meminta kepada-Nya dan memberikan syafaat.

Ketika itulah, Beliau meminta kepada Allah agar diselesaikan urusan manusia. Syafaat agung itu hanya khusus bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, adapun syafaat yang umum, maka para nabi dan lainnya ikut memberikan syafaat, seperti dikeluarkannya beberapa orang mukmin dari neraka dan diangkatnya derajat mereka.

Hisab (pemeriksaan amal)Selanjutnya manusia dihadapkan kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam keadaan berbaris untuk menjalani pengadilan terbesar di alam semesta, dimana hakimnya adalah Allah Jalla wa 'Alaa, dan Dia adalah hakim yang paling baik. Ketika itu para nabi, para saksi, dan catatan amal disiapkan agar manusia tidak mengingkari bukti-bukti yang telah disiapkan.

Kemudian Allah memperlihatkan amalan mereka dan bertanya kepada mereka tentang amalan itu, namun Dia lebih mengetahui darpada mereka. Demikian pula bertanya tentang usia yang dia lewati, masa muda yang dia habiskan, harta yang dia peroleh; dari mana ia peroleh ke mana ia belanjakan, demikian pula tentang ilmu, perjanjian, kenikmatan, dan lain-lain.

Ketika itu, orang kafir dan munafik dihisab di hadapan banyak makhluk dan dipermalukan, adapun orang mukmin, maka Allah menutupinya dari keramaian dan mengingatkan dosa-dosa yang dilakukannya, sehingga ia merasa dirinya akan binasa, lalu Allah berfirman, "Aku telah menutupinya di dunia, dan sekarang Aku akan ampuni."

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan amal yang pertama kali dihisab adalah shalat dan masalah darah.

Bertebarannya catatan amalKemudian catatan amal bertebaran, lalu mereka mengambil kitab catatan amal yang mencatat semua amalan, baik yang kecil maupun yang besar. Adapun orang mukmin, maka ia akan mengambil kitab itu dengan tangan kanannya, sedangkan orang kafir dan munafik, akan mengambilnya dengan tangan kirinya dari belakang punggungnya.

Mizan (Timbangan amal)Selanjutnya amal manusia pun ditimbang dengan timbangan yang sesungguhnya; yang memiliki dua daun timbangan. Timbangan kebaikan akan menjadi berat dengan amal yang ikhlas dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, termasuk di antaranya adalah ucapan Laailaahaillallah, akhlak yang mulia, dzikrullah, dan sebagainya. Orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia akan berbahagia, sedangkan orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka dialah orang yang merugi.

Ujian bagi kaum mukminPada kesempatan terakhir hari di padang mahsyar, maka orang-orang kafir mengikuti sesembahan mereka, dimana sesembahan itu akan membawa mereka ke neraka, dan tidak tinggal selain orang mukmin dan orang munafik, kemudian Allah datang kepada mereka dan bertanya, "Apa yang sedang kalian tunggu?" Mereka menjawab, "Kami sedang menunggu Tuhan kami.

Lalu mereka pun mengenalinya dengan betis-Nya yang Dia singkapkan, maka mereka pun bersujud selain orang-orang munafik. Allah Ta'ala berfirman, "Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka (kaum munafik) tidak kuasa." (Terj. QS. Al Qalam: 42) kemudian mereka mengikuti-Nya, lalu Dia menyiapkan shirath (jembatan) di atas neraka Jahannam, dan Dia memberikan cahaya kepada kaum mukmin dan memadamkan cahaya kaum munafik.

Shirat. Shirat adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam, dimana orang-orang mukmin nanti akan melaluinya. Jembatan itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam daripada pedang, dan sangat licin. Di atasnya ada jeruji besi yang siap menyambar manusia yang melintasinya untuk menjatuhkannya ke dalam neraka Jahannam. Ya Allah, berikanlah kepada kami kemudahan dalam melintasi shirat.

Ketika itu, kaum mukmin diberi cahaya sesuai amal yang mereka kerjakan. Cahaya yang paling besar besarnya seperti gunung, sedangkan cahaya yang paling kecil berada di ujung ibu jari kakinya. Di antara mereka ada yang melewatinya secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat hembusan angin, ada yang secepat burung yang terbang, ada yang secepat kuda yang kencang, dan seterusnya, maka ada yang selamat, ada yang tercakar jeruji besi, dan ada yang terjatuh ke dalam neraka jahannam, wal 'iyadz billah.

Adapun kaum munafik, maka mereka tidak memiliki cahaya, mereka kembali lalu dibuat penghalang antara mereka dengan kaum mukmin. Kemudian mereka tetap ingin melintasi shirat, maka ketika melintasinya, mereka berjatuhan ke dalam neraka. Nas'alullahas salaamah wal 'aafiyah.

Neraka. Neraka akan dimasuki orang-orang kafir, para pelaku maksiat dari kalangan kaum mukmin, dan orang-orang munafik. Apinya diberi kekuatan 69 kali api di dunia sehingga menembus ke tulang dan hati, setiap kali kulit mereka yang disiksa hangus, maka diganti lagi dengan kulit yang baru agar mereka merasakan azab.

Bahan bakarnya manusia dan batu, dan dalamnya adalah jika sebuah batu dilemparkan ke dalamnya, maka akan jatuh ke dasarnya setelah melalui lama 70 tahun. Di neraka, jasad orang kafir di neraka akan membesar kemudian disiksa agar mereka lebih merasakan pedihnya azab neraka. Minuman penghuninya adalah air yang mendidih yang memutuskan usus-usus mereka, ghislin (nanah penghuni neraka), dan shadid (minuman yang sangat dingin, busuk, dan bau), sedangkan makanannya adalah pohon Zaqqum, dan pakaian mereka dari api. Siksaan yang paling ringan bagi mereka adalah orang yang diberikan dua bara api di bawah kakinya, lalu otaknya mendidih. 

Qantharah (jembatan antara surga dan neraka) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَخْلُصُ المُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

"Kaum mukmin apabila telah selamat dari neraka, maka mereka ditahan di atas qantharah antara surga dan neraka, lalu sebagian mereka mengqishas yang lain terhadap kezaliman yang terjadi di antara mereka selama di dunia. Ketika mereka telah dipangkas dan dibersihkan, maka mereka diizinkan masuk ke surga. Demi Allah yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih tahu rumahnya di surga daripada rumahnya di dunia." (HR. Bukhari)

Surga. Bangunan surga adalah dari perak dan emas, plesternya dari kesturi, kerikilnya dari mutiara dan yaqut, sedangkan tanahnya dari za'faran (tumbuhan yang wangi). Ia memiliki 8 pintu. Dan di dalamnya terdapat 100 derajat, dimana jarak antara derajat yang satu dengan yang lain seperti jarak antara langit dan bumi. Di antara derajat itu, yang paling tingginya adalah Firdaus dan daripadanya mengalir sungai-sungai surga, sedangkan atapnya adalah arsy Allah.

Sungai-sungainya terdiri dari sungai madu, sungai susu, khamr, dan sungai air murni. Sungai-sungai itu mengalir tanpa parit, dimana seorang mukmin dapat mengalirkannya ke arah yang ia kehendaki. Di sana terdapat kemah mutiara yang luasnya 60 mil, dimana pada setiap sudut ada seorang istri. Mereka di sana tidak akan mati, tidak akan tua, tidak akan sakit, tidak akan sedih, dan tidak akan sengsara. 

Mereka di dalamnya tidak buang air, tidak buang ingus, tidak riak dan tidak meludah. Sisir mereka dari emas. Istri mereka adalah bidadari cantik yang bermata jeli yang sebaya usianya. Para pelayannya adalah anak-anak muda yang tetap muda seakan-akan mereka seperti mutiara yang berhamburan. Dan kenikmatan terbesar di surga adalah melihat Allah, mendapatkan keridhaan-Nya dan kekal di sana.

Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka Allahumma aamin.Wallahu a’lam

Posting Komentar Blogger