Dunia Hanyalah Persinggahan - Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dunia terus meroket. Kecanggihan produk teknologi bahkan sudah merambah sampai ke angkasa luar. Namun di sisi lain, kemajuan demi kemajuan itu ternyata juga membuat umat Islam kehilangan kendali dan menyebabkan mereka kian kehilangan pijakan hidup. Apa yang digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya ratusan tahun lalu kini pun beranjak menjadi kenyataan.
Suatu zaman nanti umatku akan bagaikan hidangan yang diperebutkan dari berbagai penjuru.” Mendengar itu para sahabat bertanya, “apakah karena jumlah mereka yang ketika itu sedikit ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, “tidak, mereka dalam jumlah yang besar, tetapi mereka bagaikan buih di tengah lautan. Sahabat bertanya lagi, “kenapa wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab, “karena mereka telah terjangkit penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.”
Gaya hidup bermewah-mewahan dengan segenap kemegah-megahannya kian sulit dielakkan umat ini. Segala kenikmatan dengan harta yang berlimpah ruah, jabatan dan kedudukan yang pasti akan musnah, ternyata lebih sering membuat lupa kepada Sang Pencipta dan arti hidup sebagai hamba Tuhan yang pada hakikatnya tidak punya apa-apa.

Pada hal Allah SWT sudah mengingatkan dalam firmanNya, “barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dengan segala kemewahannya, akan Kami penuhi upah kerjanya tanpa dikurangi sedikit pun. Orang-orang itu nanti di akhirat tidak akan mendapat apa-apa, kecuali api neraka. Sementara hasil kerjanya di sana menjadi nihil saja. Percumalah apa yang mereka kerjakan itu,” (QS. Hud: 15-16)

Persinggahan! Ya, dunia hanyalah persinggahan. Sedangkan kita manusia tidak lebih dari tetamu saja. Adapun segala yang kita miliki saat ini pada hakikatnya hanyalah pinjaman dariNya. Sunnatullah dan logikanya, persinggahan adalah tempat pemberhentian untuk tinggal beberapa waktu, sedangkan seorang tamu, cepat atau pun lambat pasti akan kembali ke negri asalnya. Begitu pula segala pinjaman, suatu saat pasti akan diambil kembali oleh yang memilikinya, yakni Allah SWT. 

Berbicara tentang wabah penyakit wahn, maka persoalan kita sesungguhnya adalah pada terlalu cintanya kita kepada sesuatu yang sifatnya hanya sementara daripada sesuatu yang kekal abadi di akhirat sana. Pada hal kita menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada makhluk yang akan hidup selama-lamanya di dunia fana penuh fatamorgana ini. Hanya Allah Rabull Izzati yang Maha Abadi dengan segala keabadianNya.

Maka dalam hal ini, sekiranya kita mampu memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan untuk berbekal, tentu tak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk mencintai persinggahan itu, apalagi kita lengah karenanya. Akan tetapi, yang ada hanyalah mencintainya demi kesuksesan mengais bekal sebanyak-banyaknya untuk sesuatu yang diyakini kekal di akhirat sana. 

Berkaitan dengan itu pula, cukuplah janji Allah bagi kita. Dia akan membalasi orang-orang yang bertaqwa di akhirat kelak dengan balasan yang berlipat ganda dari apa yang ada di dunia ini. Seperti yang dijelaskanNya dalam surat Ali Imran ayat 15: 

“Katakanlah, apakah akan Aku terangkan kepadamu yang lebih baik dari itu semua? Untuk orang-orang yang bertaqwa, oleh Allah disediakan syurga untuk kesenangan jasmaniyah, yang di dalamnya banyak mengalir sungai-sungai. Di sana mereka akan tinggal selama-lamanya dengan istri yang suci murni, di samping keridhoan Allah sebagai kebahagiaan rohaniyah. Dan Allah Maha memperhatikan hamba-hambaNYA.”
Maka tak ada pilihan lain kecuali menjadikan hidup di dunia untuk menyemai benih amal sebanyak-banyaknya yang akan dipetik hasilnya di kampung akhirat nan abadi. Mendapatkan Ridho dan cinta Allah butuh pengorbanan dan perjuangan. Maka berjuanglah di jalanNYA dengan menempatkan cinta kepada Allah dan RasulNYA di atas cinta segala-galanya. Dan “cukuplah Allah sebagai penolong kita.”

Tidak mencintai dunia bukanlah bermakna meninggalkan dan “menjauh” darinya. Akan tetapi, mencintai dunia dapat kita maknai, bagaimana kita hadir di dalamnya, bekerja dan berkorban untuk sampai ke tujuan di pelabuhan yang sesungguhnya. Di sinilah kita perlu mengambil dunia untuk meraih bahagia dalam keabadian, bukan semu dalam kemegahan dan kebahagian yang sebenarnya hanya tipuan saja.

Cinta kepada dunia bagi mukmin sejati adalah cinta yang melahirkan amal shaleh selagi dunia itu ada. Cinta kepada dunia juga dapat kita ambil dengan menjadikannya jembatan yang akan mengantarkan kita ke syurga dengan segala kenikmatannya. Cintailah dunia agar dunia ini bisa memberikan bekal bagi kita. Letakkanlah ia dalam genggaman, dan jangan simpan ia di lubuk hati yang paling dalam.

Apa yang kita cari? Dunia ini hanya akan menjadi panggung sandiwara, tipuan dan senda gurau jika kita lupa pada hakikat penciptaan kita. Waktu masih ada untuk berbenah menuju ampunan dan RidhoNYA SWT dengan bersegera dan berbekal di persinggahan ini. Renungkanlah saudaraku para musafir yang masih terlena.
“Dan bersegeralah kamu berbuat kebajikan yang dapat menyampaikanmu kepada pengampunan Tuhanmu, dan memasukkanmu ke dalam syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran: 133). Wallahu’alam.

Posting Komentar Blogger