Penjelasan Tentang Bertauhid - Islam dikenal sebagai agama tauhid (monotheisme). Dalam Al Qur’an dan hadits sangat ditekankan agar umat Islam senantiasa bertauhid kepada Allah swt. dan jangan sedikitpun akidahnya tercampur dengan kemusyrikan. 

Tauhid adalah salah satu prinsip dasar dalam agama Islam. Ajaran tauhid dibawah oleh setiap Nabi hingga kepada Nabi Muhammad saw. Namun dalam realitasnya banyak di kalangan kaum muslimin yang tidak bias memperthankan ajaran tauhid. Masih banyak kita temukan di kalangan muslimin praktik-praktik syirik dengan berbagai bentuknya.

Nabi Ibrahim as. dan nabi lainnya sangat getol dalam menegakkan ajaran tauhid dan memberantas praktik kemusyrikan. Dapat kita baca bagaimana kisah Nabi Ibrahim dalam pencarian Tuhan dan bagaimana pula tindakan Ibrahim ketika menghancurkan patung-patung pada zaman Namrud.


Menurut bahasa kata tauhid berasal dari bahasa Arab tawhid bentuk masdar (infinitif) dari kata wahhada, yang artinya al-i’tiqaadu biwahdaniyyatillah (keyakinan atas keesaan Allah). Sedangkan pengertian secara istilah tauhid ialah meyakini bahwa Allah swt itu Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini dirumuskan dalam kalimat syahadat. Laa ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah).
Tauhid artinya mengesakan Allah. Esa berarti tidak berbilang. Allah tidak boleh dihitung dengan satu, dua atau seterusnya, karena kepada-Nya tidak layak dikaitkan dengan bilangan. Beberapa ayat al-Quran telah dengan jelas mengatakan keesaan Allah. Di antaranya surat al-Ikhlas ayat 1-4 sebagai berikut:




Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Dari ayat di atas dapat ditangkap penjelasan bahwa Allah itu Maha Esa. Keesaan Allah swt itu menurut M. Quraish Shihab mencakup keesaan Zat, keesaan Sifat, keesaan Perbuatan, serta keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

Keesaan Zat mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah swt tidak terdiri dari unsur-unsur, atau bagian-bagian. Karena, bila Zat Yang Maha Kuasa itu terdiri dari dua unsur atau lebih—betapapun kecilnya unsur atau bagian itu—maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian itu, atau dengan kata lain, unsur atau bagian ini merupakan syarat bagi wujud-Nya.

Adapun keesaan dalam sifat-Nya, mengandung pengertian bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan untuk menunjuk sifat tersebut sama. Sebagai contoh, kata rahim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk untuk menunjuk rahmat atau kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya. Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang menyamai substansi dan kapasitas tersebut.

Keesaan dalam perbuatan-Nya mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujudnya, kesemuanya adalah hasil Perbuatan Allah semata.

Sedangkan keesaan dalam beribadah merupakan perwujudan dari ketiga keesaan di atas. Keesaan dalam beribadah secara singkat tergambar dalam firman-Nya: Katakanlah: ”sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku, semuanya karena Allah, Pemelihara seluruh alam.” (QS 6:162) Dari sini dapat disimpulkan bahwa segala bentuk peribadatan harus ditujukan hanya kepada Allah semata. Hanya Allah yang wajib disembah. Tidak boleh peribadatan itu ditujukan kepada selain Allah swt.

Keempat keesaan Allah swt tersebut di atas sangat penting ditanamkan dalam hati setiap orang yang mengimani adanya-Nya. Oleh karena itu, untuk mendukung ketercapaian keimanan tersebut harus didukung dengan pemahaman mengenai llmu tauhid dan nama-nama lain dari ilmu tauhid. Dengan pemahaman yang utuh seperti ini, diharapkan bisa memudahkan seseorang untuk bertauhid yang benar.

Kemudian untuk melengkapi pemahaman tentang pengertian tauhid tersebut, berikut ini dijelaskan tentang hal-hal lain yang terkait dengan penjelasan di atas. Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang Allah swt, sifat-sifat yang wajib pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya, dan sifat-sifat yang sama sekali harus ditiadakan daripada-Nya, serta tentang rasul-rasul Allah swt untuk menetapkan kerasulan mereka, hal-hal yang wajib ada pada diri mereka, hal-hal yang boleh (dinisbahkan) kepada mereka, dan hal-hal terlarang mengaitkannya kepada mereka.

Ilmu ini dinamakan ilmu tauhid karena pokok pembahasannya yang paling penting adalah menetapkan keesaan (wahdah) Allah swt dalam zat-Nya, dalam menerima peribadatan dari makhluk-Nya, dan meyakini bahwa Dia-lah tempat kembali, satu-satunya tujuan. Keyakinan tauhid inilah yang menjadi tujuan utama bagi kebangkitan Nabi Muhammad saw.


Ilmu tauhid memiliki beberapa sebutan lain seperti berikut:

1.Ilmu Ushuluddin

Kata ushuluddin terdiri dari dua kata yaitu ushul yang berarti pokok atau pangkal dan din yang berarti agama. Jadi ilmu ushuluddin adalah ilmu tentang pokok-pokok agama. Ilmu tauhid sering disebut juga dengan ilmu ushuluddin (pokok-pokok atau dasar-dasar agama) karena ilmu itu menguraikan pokok-pokok atau dasar-dasar agama. 

2. lmu Aqaid

Ilmu tauhid sering juga disebut ilmu aqaid (keyakinan), karena ilmu tersebut membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keyakinan yang harus terpatri di dalam hati secara kuat.

3. Ilmu kalam

Kata kalam berarti perkataan atau kata-kata yang tersusun yang menunjukkan suatu maksud pengertian. Kemudian dipakai untuk menunjukkan salat satu sifat Allah yaitu berkata-kata. Jadi ilmu kalam adalah ilmu tentang kalam Allah.

Ilmu tauhid sering juga disebut dengan ilmu kalam. Penamaan ilmu kalam didasarkan pada beberapa alasan, antara lain;
  1. Problem-problem yang diperselisihkan umat Islam pada masa-masa awal dalam ilmu ini adalah masalah Kalam Allah swt, yaitu al-Quran, apakah ia makhluk dalam arti diciptakan ataukah ia kadim dalam arti abadi, tidak diciptakan
  2. Dasar dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak lepas dari dalil-dalil aqli yang dijadikan sebagai argumentasi yang kuat sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika (mantik) yang penyajiannya melalui permainan (kata-kata) yang tepat dan jitu (jami’ mani’).
  3. Karena cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam filsafat, maka pembuktian dalam soal-soal agama ini dinamai ilmu kalam untuk membedakan dengan logika dalam filsafat.
4. Ilmu ilahiah

Ilmu tauhid juga dikenal dengan sebutan ilmu ilahiah, karena yang menjadi obyek utama ilmu ini pada dasarnya adalah masalah ketuhanan. Ilmu tauhid juga kadang disebut dengan teologi Islam. Teologi adalah ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan. Kata teologi terdiri dari dua kata yaitu theo yang berarti Tuhan dan logi yang berarti ilmu. Tetapi apabila kata teologi dipakai untuk membicarakan tentang Tuhan dalam Islam, maka hendaklah selalu ditambahkan kata Islam di belakangnya, sehingga menjadi teologi Islam. Sebab kata itu dapat juga dipakai untuk membicarakan Tuhan menurut agama-agama yang lain, seperti teologi Kristen, teologi Hindu, dan sebagainya. Ini semua dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah teologi Islam, ilmu kalam , dan ilmu tauhid memiliki kesamaan pengertian, yaitu di sekitar masalah-masalah sebagai berikut; (1) kepercayaan tentang Tuhan dengan segala seginya, yang berarti termasuk di dalamnya soal-soal wujud-Nya, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya dan sebagainya. (2) pertalian-Nya dengan alam semesta, yang berarti termasuk di dalamnya persoalan terjadinya alam, keadilan dan kebijaksanaan Tuhan, serta qada dan qadar. Pengutusan rasul-rasul juga termasuk di dalam persoalan pertalian manusia dengan Tuhan, yang meliputi juga soal penerimaan wahyu dan berita-berita alam gaib atau akhirat.


Pokok-pokok pembahasan yang menjadi ruang lingkup ilmu tauhid meliputi tiga hal sebagai berikut:
  1. Ma’rifat al-mabda’ yaitu mempercayai dengan penuh keyakinan tentang pencipta alam Allah swt. Hal ini sering diartikan dengan wujud yang sempurna, wujud mutlak atau wajibul wujud.
  2. Ma’rifat al-watsiqah yaitu mempercayai dengan penuh keyakinan tentang para utusan Allah swt yang menjadi utusan dan perantara Allah swt dengan umat manusia untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya, tentang kitab-kitab Allah yang dibawa oleh para utusan-Nya dan tentang para malaikat-Nya.
  3. Ma’rifat al-ma’ad yaitu mempercayai dengan penuh keyakinan akan adanya kehidupan abadi setelah mati di alam akhirat dengan segala hal ihwal yang ada di dalamnya.

Berdasarkan jenis dan sifat keyakinan tauhid, para ulama membagi ilmu tauhid dalam empat bagian; yaitu:

1. Tauhid yang berhubungan dengan ketuhanan yaitu mempercayai bahwa hanya kepada Allah-lah kita harus bertuhan, beribadah, memohon pertolongan, tunduk, patuh dan merendah serta tidak kepada yang lain. Tauhid ini mengandung makna bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dalam konteks ini semua amal ibadah harus disandarkan kepada-Nya. Orang yang mengerjakan ibadah karena selain Allah adalah sia-sia.
Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. Al Mukmin/40 ayat 65)
2. Tauhid yang berhubungan dengan sifat Allah yang Maha Memelihara yaitu mempercayai bahwa Allah swt adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, penguasa dan pengatur alam semesta ini. Tauhid ini juga mengandung pengertian keyakinan atas keesaan Allah dalam penciptaan alam. Allah adalah al Khalik. Hanya Allah Pencipta dan Penguasa alam semesta.

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS.al Mukminun/23 ayat 14)
3. Tauhid yang berhubungan dengan kesempurnaan sifat Allah yaitu mempercayai hanya Allah swt yang memiliki segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari sifat tercela atau dari segala kekurangan.

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (QS. Al An’am/6 ayat 100)
4. Tauhid yang berhubungan dengan kekuasaan Allah yaitu mempercayai bahwa Allah sebagai satu-satunya Zat yang menguasai alam semesta, tidak ada lagi zat lain yang turut serta dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada sekutu atas kekuasaan Allah di jagat raya ini. Allah adalah al Malik, Maha Raja di atas raja-raja yang ada di dunia.
Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran/3 ayat 26)

Al-ilah adalah Zat yang harus dipertuhankan dengan sepenuh hati bahwa Dia penuh cinta (mahabbah), ampunan (inabah) kemuliaan (ikram), kebesaran (adzim). Laa ilaaha Illalah merupakan ucapan yang sangat benar dan penuh kejujuran. Orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah tanpa memahami dan mengamalkan isinya maka kesaksiannya itu akan sia-sia dan tidak memberi manfaat kepadanya.

Masih banyak ummat Islam yang belum memahami makna syahadat. Oleh karena itu mereka masih bersedia mempercayai tuhan selain Allah. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan mengkeramatkan kuburan, senjata seperti keris, batu-batuan jin adalah perbuatan sesat.

Secara garis besar kalimat Laa ilaaha illallah mempunyai beberapa pengrtian:
  1. Laa ma'bud bihaqqi Ilallah artinya hanya Allah yang berhak dan pantas untuk disembah
  2. Laa Hakima Ilallah maksudnya hukum yang mutlak bersumber dariNya.
  3. Laa Maa Lika Ilallah artinya Tidak ada penguasa mutlak kecuali Allah, Dialah Rabb semesta alam, pengusa dan pengatur
  4. Laa Khaliqa Ilallah artinya tidak ada pencipta di dunia ini kecuali Dia
  5. Laa Raziqa Ilallah artinya tidak ada yang bisa memberi rizki selain Allah
  6. Laa illaha illa huwa yuhyi wa yumitu artinya tidak ada ilah yang dapat menghidupkan dan mematikan kecuali Dia
  7. laa Naa fi'a wala dharra ilallah artinya tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan Madharrat selain Dia yang maha kuasa.
  8. La haula wala quwwata illa billah artinya tidak ada daya dan kekuatan selain kekuasaan Allah
  9. Laa yatawakkalu illa 'alallah artinya tidak ada tempat berserah diri kecuali kepada Allah
  10. Laa mujibadda a'wati ilallah artinya tidak ada yang bisa mengabulkan do’a kecuali Allah
  11. Laa dinil Haqqi illa dinu Ilallah artinya tidak ada agama selain agama Allah
  12. Laa Khasysyata wala khaufa ilallah artinya hanya kepada Allah saja kita takut (khawatir akan adzab-Nya)
  13. Laa ghaayatal hubbi ilallah artinya Allah sajalah yang menjadi pusat kerinduan.

Orang yang bertauhid akan memiliki hikmah yang besar, antara lain:
  1. Tauhid yang kuat akan menumbuhkan sikap kesungguhan, pengharapan dan optimisme di dalam hidup ini. Sebab orang yang bertauhid meyakini bahwa kehidupan dunia adalah ladang akhirat.
  2. Orang yang bertauhid jika suatu saat dikaruniai harta, maka ia akan menggunakan hartanya itu di jalan Allah. Sebab ia yakin bahwa harta dan segala yang ada adalah milik Allah.
  3. Dengan bertauhid akan mendidik akal manusia supaya berpandangan luas dan mau mengadakan penelitian tentang alam. Al-Quran telah memerintahkan kepada kita supaya memperhatikan penciptaan langit, bumi, dan segala isinya. 
  4. Orang yang bertuahid akan merendahkan diri dan tidak tertipu oleh hawa nafsu yang ada pada dirinya. Misalnya, jika ia akan tertipu hawa nafsu, maka dia segera mengingat bahwa Allah Maha Kaya dan Dia-lah yang memberinya harta, sehingga dia kembali bersikap pemurah, mengeluarkan harta, berkorban dan mencintai orang lain.
  5. Dengan mentauhidkan Allah, kita akan menjauhkan dirinya dari angan-angan yang kosong. Semua amal perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas oleh Allah swt.
  6. Dengan bertauhid yang benar, kita akan diliputi ketenangan dan pengharapan. Ia akan merasa tenang setelah mengetahui bahwa Allah dekat, mengabulkan permohonannya, menerima tobat orang-orang yang bertobat, dan menolong orang-orang teraniaya. Sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu.
  7. Orang yang menjaga tauhid-nya akan menjamin seseorang akan masuk surga, tempat yang penuh dengan kenikmatam

Keimanan yang kuat akan memberikan hikmah dan manfaat yang besar. Sebaliknya, sikap tidak bertauhid akan mendatang hal-hal negatif, diantaranya:
  1. Orang yang tidak bertauhid tidak akan mempunyai rasa optimisme dan pengharapan dalam hidup, karena tidak ada dalam benaknya keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati. Orang seperti ini akan merasa bahwa tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan terhadap apa saja yang dilakukan selama hidup di dunia. Kematian adalah akhir dari kehidupan.
  2. Orang yang tidak bertauhid akan berpandangan sempit. Tidak ada dorongan di dalam hatinya untuk melakukan penelitian dan renungan tentang rahasia di balik kekuasaan Allah swt. Karena ia tidak percaya terhadap Allah swt. Penghidupannya akan menjadi sempit, seperti firman Allah swt dalam al-Quran surat Thaha ayat 124:
  3. Orang yang tidak bertauhid akan mudah tertipu oleh hal-hal yang sifatnya keduniawian. Prinsip hidup orang seperti ini yang penting senang, tidak peduli apakah hal itu benar atau salah.
  4. Orang yang tidak bertauhid akan tertutup hatinya. Jiwanya mengalami disfungsi. Pesan-pesan Allah tidak akan mampu tertangkap meskipun Allah begitu dekat. Ibaratnya pesawat televisi yang sedang rusak atau disfungsi, bagaimanapun dekatnya dengan pusat transmisi tetap saja tidak bisa menerima sinyal-sinyal gambar atau suara. Allah swt berfirman dalam al-Quran surat al-Baqarah/2 ayat 7:
  5. Orang yang tidak bertauhid akan selalu diliputi dengan kegelisahan dan kegersangan jiwa. Meskipun tampaknya senang, itu hanyalah tipuan setan dan sifatnya hanyalah sementara. Allah swt berfirman dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 126:
  6. Orang yang tidak bertauhid akan masuk neraka, karena ia akan terjebak pada praktik kemusyrikan dan kemusyrikan adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah swt. (QS. An Nisa’/4 ayat 116)

Posting Komentar Blogger