Memahami Menjadi Hamba Allah yang Berakhlak - Selanjutnya mari kita uraikan tentang menjadi hamba Allah yang berakhlak. Pengertian akhlak Secara lugahwi kata akhlak berasal dari bahasa Arab al-akhlaq, yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq atau al-khaliq yang berarti
a) tabiat, budi pekerti,
b) kebiasaan atau adat,
c) keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, dan
d) agama. 

Sedangkan pengertian secara istilah, akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan yang mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Jika keadaan (hal) tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syarak (hukum Islam), disebut akhlak yang baik. Jika perbuatan-perbuatan yang timbul itu tidak baik, dinamakan akhlak yang buruk. Sebagian ulama’ memberi definisi mengenai akhlak, yaitu:
www.ponpeshamka.com
“Akhlak adalah sifat manusia yang terdidik”
Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat di dalam jiwa, maka perbuatan baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat, yaitu:

  1. Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau perbuatan itu dilakukan hanya sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, pada suatu saat, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang kepada orang lain karena alasan tertentu. Tindakan seperti ini tidak bisa disebut murah hati berakhlak dermawan karena hal itu tidak melekat di dalam jiwanya. 
  2. Perbuatan itu timbul mudah tanpa dipikirkan atau diteliti terlebih dahulu sehingga benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang tidak disebut akhlak.
Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia, yang disebut al-akhlak al-karimah. Hal ini tercantum antara lain dalam sabda Rasulullah saw; 

Rasulullah bersabda:“ Sesungguhnya aku diutus hanya  untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Al-Hakim)

a. Norma Sekuler(akhlak wad’iyyah)
Norma sekuler adalah norma yang mengajarkan akhlak kepada manusia dengan berpedoman kepada olah pikir dan pengalaman manusia. Dengan demikian, akhlak, ini hanya mempunyai satu macam sanksi, yaitu sanksi yang datang dari masyarakat (sesama manusia) semata-mata.
Akhlak merupakan suatu upaya manusia untuk mempertahankan hidupnya. Akhlak pula yang membedakan manusia dengan binatang. Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa disertai pendidikan akhlak yang baik, tidak akan bisa mempertahankan kehidupan manusia. Hal itu justru akan menyebabkan kepunahan dan kebinasaan.

b. Norma Keagamaan  (akhlak Islamiyah)
Norma keagamaan adalah norma yang mengajarkan akhlak kepada manusia dengan mengambil tuntunan yang telah diberikan Allah swt. dan rasulullah saw. dalam Al-Quran dan hadis
   
Dengan demikian akhlak ini mempunyai dua macam sanksi apabila dilanggar. Yang pertama adalah sanksi dari Tuhan (bersifat gaib) dan yang kedua adalah sanksi yang datang dari masyarakat (sesama manusia). Adapun ciri-ciri akhlak Islami adalah:

  1. Kebaikannya bersifat mutlak (al-khairiyah al-mutlaqah), yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam merupakan kebaikan yang murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat, di dalam lingkungan, keadaan, waktu dan tempat apapun; 
  2. Kebaikannya bersifat menyeluruh (al-salahiyyah al-ammah), yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat; 
  3. Tetap, langgeng dan mantap, yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh perubahan waktu dan tempat  atau perubahan kehidupan masyarakat; 
  4. Kewajiban yang harus dipatuhi (al-ilzam al-mustajab), yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam merupakan hukum yang  harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang-orang yang tidak melaksanakannya; dan 
  5. Pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah al-muhitah). Karena akhlak Islam bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat dari akhlak ciptaan manusia, sehingga seseorang tidak berani melanggar kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatan yang salah lagi. Ini terjadi karena agama merupakan pengawas yang kuat. Pengawas  lainnya adalah hati nurani yang hidup yang didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing oleh agama serta diberi petunjuk.

Etika berasal dari bahasa Yunani ethicos ethos artinya karakter, kebiasaan, kebiasaan, watak, sifat. Sedang secara istilah etika ialah ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran atau kaidah-kaidah yang mendasari pemberian tanggapan atau penilaia terhadap perbuatan-perbuatan.

Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mores artinya mengenai kesusilaan. Secara istilah moral adalah ajaran tentang baik dan buruk yang diterima secara umum. Sedangkan budi pekerti berarti tabiat, akhlak dan watak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara akhlak, etika, moral dan budi pekerti memiliki persamaan, yaitu berbentuk perilaku yang  sifatnya netral. Misalnya ada orang yang berbuat jelek, maka tidak tepat jika dikatakan bahwa orang tersebut tidak mempunyai akhlak. Sebab akhlak itu sendiri adalah perilaku. Orang itu sudah berperilaku, namun berperilaku yang jelek. Akan lebih pas kalau dikatakan bahwa orang tersebut berakhlak tercela. 

Oleh karena itu, semuanya tergantung kepada setiap orang/individu. Jika watak, karakter, kebiasaan dan tabiat itu mengarah dan diarahkan kepada hal-hal yang baik, maka ia akan menjadi akhlak terpuji. Sebaliknya, jika semua itu diarahkan kepada hal-hal yang jelek, maka ia akan menjadi akhlak tercela. Karena itu, pembinaan akhlak itu sama dengan pembinaan perilaku.

Peningkatan kualitas akhlak  penting dilakukan untuk mencapai kemuliaan hidup. Kualitas akhlak (kemuliaan) sudah menjadi tujuan dari diutusnya nabi Muhammad saw sesuai dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Rasulullah saw sendiri merupakan figur ideal dan contoh kepribadian utama yang bisa dijadikan teladan. Allah swt menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

http://www.ponpeshamka.com
Artinya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS.Al Ahzab/ 33 ayat 21)
Apalagi jika kita melihat kondisi seperti sekarang ini, masyarakat sedang mengalami dekadensi moral. Lingkungan yang buruk, pengaruh negatif perkembangan teknologi dan pergaulan yang cenderung bebas, semakin menguatkan pandangan bahwa pembinaan kualitas akhlak dan peningkatan kualitas pendidikan Islam itu penting dilakukan agar terbentuk akhlak mulia dan terpuji.

Berdasarkan uraian di atas maka diperlukan cara atau metode yang tepat dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak masyarakat. Metode-metode antara lain sebagai berikut:


Kualitas akhlak bisa ditingkatkan melalui metode perumpamaan. Perumpamaan ini bisa diambil dari kandungan ayat-ayat al-Quran. Tujuannya adalah agar menjadikan perumpamaan itu sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Allah swt berfirman dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 26:
 
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
Begitu pula pada surat Al Hajj ayat 73 yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, Sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan surat Al Ankabut ayat 41 yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.

Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah dalam ayat ini, ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.

Usaha peningkatan kualitas akhlak bisa dilakukan dengan mempelajari perumpamaan di dalam al-Quran, selanjutnya menjadikan perumpamaan itu sebagai sarana mendidik akhlak pribadi dan masyarakat. Selain itu, bisa menguatkan  kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perupamaan tersebut yang menghadirkan perasaan religius.

Perasaan relijius yang tertanam di dalam hati akan menguatkan keimanan seseorang. Dengan keimanan yang baik dan kuat, maka diharapkan akan terbentuk perilaku dan akhlak yang baik


Kebutuhan keteladanan sudah menjadi fitrah setiap orang. Karena itu, setiap pribadi hendaknya bisa menjadi teladan bagi yang lain dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak. Rasulullah saw adalah sosok teladan dalam kehidupan suami-istri, dalam kesabaran menghadapi keluarganya, dan dan dalam mengarahkan istri-istrinya dengan baik. Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلاَهْلِهِ وَاَنَا خَيْرُكُمْ ِلاَهْلِي (رواه ابن حبان)
 “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik di antara kalian bagi keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian bagi keluargaku.”

Dalam kehidupan keluarga, anak sangat membutuhkan suri teladan, khususnya dari kedua orang tuanya, agar sejak kecil ia menyerap dasar tabiat perilaku Islam dan berpijak pada landasannya yang luhur. Jika orang terdekat di dalam keluarganya tidak bisa memberikan keteladanan yang baik, maka akan sangat berpengaruh terhadap akhlak sang anak.

Di sekolah atau madrasah, murid sangat membutuhkan suri teladan yang dilihatnya langsung dari setiap guru yang mendidiknya. Karena itu, baik guru ataupun orang tua hendaknya memiliki akhlak yang luhur yang diserapnya dari al-Quran dan jejak langkah rasulullah saw.

Islam telah menjadikan pribadi Rasul sebagai suri teladan bagi seluruh pendidik, dari generasi ke generasi, dan selalu aktual dalam kehidupan manusia. Setiap membaca riwayat kehidupannya bertambah pula kecintaan kita kepadanya dan tergugah pula keinginan kita untuk meneladaninya.

Islam tidak menyajikan keteladanan ini sekedar untuk dikagumi atau sekedar untuk direnungkan dalam lautan hayal yang serba abstrak. Namun semua itu diharapkan bisa diterapkan dalam diri sendiri, sehingga bisa meniru akhlak rasulullah saw.


Sebagaimana diketahui, Islam adalah agama yang menuntut umatnya agar mengerjakan amal saleh yang diridhai Allah, menuntut kita supaya mengarahkan tingkah laku, naluri, dan kehidupan ini sehingga dapat mewujudkan perilaku dan akhlak yang baik. Agar perbuatan itu bisa berujung kepada amal saleh, maka dibutuhkan latihan dan pengalaman. 

Islam menegaskan bahwa ibadah hanya akan diterima jika dilaksanakan melalui ucapan dan perbuatan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw kepada kita dan diikuti oleh para sahabat, para tabi’in, imam yang empat, dan para fuqaha muta-akhirin hingga masa sekarang ini. Kedua perkara itu disatukan secara ringkas di dalam firman Allah swt di bawah ini:
http://www.ponpeshamka.com
...Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS al-Kahfi: 110)
Harus diketahui, akhlak tidak akan tumbuh tanpa diajarkan dan dibiasakan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang akhlak selain sebagai ilmu, secara bertahap juga harus diikuti secara terus menerus bentuk pengamalannya, baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat.

Rasulullah dalam banyak haditsnya memberikan pelajaran melalui latihan dan pengalaman. Bagaimana beliau salat dan wudlu langsung dipraktekkan dan para sahabat diminta untuk menirukan. Latihan dan pengalaman seperti ini bisa diterapkan di rumah atau di madrasah. Guru atau orang tua melakukan gerakan wudlu dan salat dengan sempurna, kemudian ditirukan oleh anak-anak dan murid-muridnya. Latihan dan pengalaman seperti ini bisa dikembangkan dalam perilaku dan kegiatan sehari-hari sehingga anak-anak sejak dini sudah berada dalam lingkungan yang mampu memberikan warna dan menyemaikan benih-benih akhlak yang baik. Jika ini dilakukan secara istiqamah dan terus menerus akan melahirkan suatu masyarakat yang berakhlak dan berbudi pekerti yang baik.


Ibrah artinya kondisi yang memungkinkan orang bisa sampai dari pengetahuan yang kongkrit kepada pengetahuan yang abstrak. Maksudnya adalah perenungan dan tafakur. Ibrah dan i’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia untuk mengetahui intisari sesuatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, dan diputuskan oleh manusia secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati menjadi tunduk kepada-Nya kemudian mendorong untuk berperilaku yang baik.

Di dalam al-Quran sendiri banyak ayat-ayat yang bisa dijadikan ibrah. Di antaranya adalah melalui kisah-kisah seperti tertulis dalam firman Allah swt berikut ini:

   http://www.ponpeshamka.com
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf: 111)
Ayat di atas menegaskan bahwa bahwa kisah tentang Nabi Yusuf  bisa dijadikan pelajaran Nabi Yusuf yang sempat dianiaya oleh saudaranya, lalu menjadi hamba sahaya, beliau lebih memilih penjara daripada fitnah tuannya. Hingga Allah karuniakan keberhasilan menjadi raja dengan perhiasan akhlaknya yang mulia. 

Ibrah juga bisa dilihat dari makhluk ciptaan Allah dan nikmat-nikmat-Nya. Allah berfirman:

http://www.ponpeshamka.com/2018/02/memahami-menjadi-hamba-allah-yang.html
Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (QS an-Nahl: 66-67)
Peran orang tua atau pendidik yang lain dalam hal ini adalah berusaha melatih anak-anak untuk merenungkan keajaiban yang diciptakan Allah, terutama yang ada di sekitar kita. Dengan begitu diharapkan membawa kepribadian anak-anak ke arah yang baik dengan semakin mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah swt. 

Peningkatan kualitas akhlak melalui mau’idhah maksudnya adalah pemberian nasehat dan pengingatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara-cara yang baik dan menyentuh. Allah swt berfirman dalam QS al-Baqarah: 232. Artinya
 ...Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian... 
Jiwa ikhlas orang yang memberi nasehat sangat penting bagi keberhasilan apa yang dinasehatkan. Sebab inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan para rasul yang lain dalam menyampaikan risalahnya. 

Selain jiwa ikhlas, hendaknya nasehat itu dilakukan secara berulang kali untuk menggerakkan orang lain melakukan amal saleh dan berperilaku yang baik. Saling menasehati juga diperintahkan oleh Allah dalam hidup ini. 

Berangkat dari sini dapat dipahami bahwa penanaman al-haq (kebenaran) itu memang bukan tugas yang ringan. Termasuk penanaman keimanan, sekaligus yang memungkinkan munculnya akhlak yang baik, itu adalah tugas yang berat. Karena itu pelaku-pelaku yang memberi wasiat harus sabar dan tidak bosan-bosan untuk terus melakukan wasiat atau saling menasehati di antara sesama.


Setelah mempelajari berbagai metode peningkatan kualitas akhlak di atas, hal terpenting yang dilakukan selanjutnya adalah bagaimana menerapkan metode-metode tersebut dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak dalam kehidupan. Sebab sebaik apapun metode yang ada, tanpa ada usaha untuk mempraktekkan metode itu dalam kehidupan, maka metode tersebut akan menjadi sia-sia. 

Dalam perspektif Islam, anak adalah karunia sekaligus amanah yang diberikan kepada orang tua. Sebagai karunia, kelahiran anak harus disyukuri sebagai nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Sedangkan sebagai amanah, orang tua mempunyai tanggungjawab memelihara amanah itu. Singkatnya, kelahiran anak sebagai karunia dan amanah meniscayakan perlunya pendidikan. Perlunya pendidikan melahirkan lembaga-lembaga yang berfungsi melaksanakan pendidikan, baik secara informal (keluarga), formal (pemerintah) dan nonformal  (masyarakat). Ketiga lembaga atau lingkungan pendidikan tersebut merupakan tempat yang tepat dalam menerapkan metode-metode peningkatan kualitas akhlak.

a. Lingkungan keluarga
Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Dalam Islam pembinaan keluarga disyariatkan. Seorang anak akan bisa tumbuh dan berkembang menjadi dewasa jika berada di dalam lingkungan keluarga yang dibangun berdasarkan takwa kepada Allah. Karena itu, penerapan metode peningkatan kualitas akhlak sangat penting dalam keluarga. Orang tua dalam hal ini memegang peran utama dalam menjaga anak-anaknya dari kejahatan, perilaku tercela dan dari api neraka. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS at-Tahrim: 6)

Peningkatan kualitas akhlak bisa dilakukan orang tua antara lain dengan cara membiasakan anak-anaknya mengingat kebesaran dan nikmat Allah, merenungi semua ciptaan-Nya agar bisa berkembang dengan baik dan senantiasa terjaga ketauhidannya. Namun hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah keteladanan orang tua dalam beribadah dan berakhlak mulia.

b. Lingkungan pendidikan formal

Lingkungan sekolah atau madrasah atau tempat belajar yang lain merupakan lingkungan kedua setelah keluarga. Tempat ini sangat penting dalam usaha meningkatkan kualitas akhlak. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan, mulai aktivitas belajar dan bermain sangat berpengaruh dalam ikut membentuk kepribadian anak didik. Tanggung jawab guru sangat besar dalam menerapkan berbagai metode yang tepat agar anak bisa terbimbing akhlaknya dan tetap terjaga keimanannya.

Melihat begitu pentingnya peran guru, maka seorang guru haruslah melakukan hal-hal berikut; membimbing anak didiknya agar menyembah Allah, ikhlas, sabar dalam menjalankan tugas, jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya, membekali diri dengan ilmu, memahami kejiwaan dan perkembangan anak didiknya, serta mampu bersikap adil kepada anak didiknya.

c. Lingkungan masyarakat

Masyarakat Islam memiliki tanggungjawab moral dalam membina akhlak. Allah menyuruh masyarakat Islam agar berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Allah berfirman:

http://www.ponpeshamka.com

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah(QS Ali Imran:110)
Berdasarkan ayat di atas mendidik anak berari menjaga fitrah mereka dari kotoran dan perbuatan salah. Ini kewajiban manusia dewasa atau para tokoh masyarakat untuk menanamkan keimanan dan sekaligus membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan masyarakat. Tokoh masyarakat mempunyai peranan penting dalam usaha penyemaian akhlak yang baik. Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang positif dan penggunaan masjid misalnya sebagai pusat kegiatan akan membantu tumbuh dan berkembangnya kualitas akhlak.

Posting Komentar Blogger