Memahami Indahnya Asma Ul Husna - Dalam ilmu tahud kita pahami ada 3 tauhid diantaranya Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa sifat. Allah swt memiliki sifat dan nama yang dikenal dengan asmaul-husna. Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang indah dan merupakan sifat yang melekat pada Allah swt. Setiap kita berdo’a kepada Allah kita dianjurkan berdoa dengan menyebut asmaul husna.A. Lafal dan Arti Asmaul Husna

Setiap nama Allah swt pasti mengandung sifat yang berkaitan dengan nama dan keluhuran Allah swt. Melalui wahyu-Nya yang disampaikan oleh para rasul-Nya Allah memberitahukan kepada makhluk-Nya tentang nama-nama-Nya. Nama-nama Allah itu disebut dalam al-Quran dengan al-Asma’ al-Husna yang artinya nama-nama yang baik.
Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al- A’rāf/8: 180)
Asma’ artinya nama, dan husna artinya lebih baik (bentuk superlatif). Jadi, nama-nama Allah itu adalah nama yang paling baik dan sempurna; sedikitpun tidak ada kekurangannya. Lafadz Asmaul Husna dalam al-Quran terdapat dalam 4 ayat. Sedang nama-nama Allah terdapat pada 3.207 ayat yang meliputi 96 nama, sementara 3 nama lainnya dijelaskan oleh hadits nabi, yakni al-Khafidz (Yang Merendahkan), al-Mani’ (Yang Maha Mencegah), as-Shabur (Yang Maha Sabar). Meskipun nama-nama tersebut bukan termasuk dalam al-Quran, namun tidak bertentangan dengan ayat Al Quran

Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik). (QS Thaha:8)

Asmaul Husna adalah nama-nama yang indah. Jumlahnya ada 99 nama, seperti yang tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, al-turmudzi, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah bahwa nabi saw bersabda:

اِنَ لله تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا مَنْ حَفَظَهَادَخَلَ اْلجَنةَ وَاِن اللهَ يُحِب اْلوِتْرَ
Sesungguhnya bagi Allah 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya ia akan masuk surga. Dan sesungguhnya Allah itu ganjl (tidak genap) menyukai akan yang ganjil.
Dengan menghafal dan mengetahui nama-nama Allah, kita dapat mengetahui dan memahami sifat-sifat Allah. Baik mari kita pelajari 10 asmaul husna berikut:

Al Kariim artinya Yang Maha Mulia. Allah adalah Dzat Yang Maha sempurna dengan kemulian-Nya. Dia terbebas dari perbuatan negatif dari makhluk-makhluk-Nya. Karena perbuatan negatif makhluk sama sekali tidak akan mempengaruhi dan mengurangi kemuliaan Allah Swt. 

Maka Mahatinggi Allah, raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia. Tuhan (yang mempunyai) arsy yang mulia.(Q.S. Al-Mu’minūn {23}:116)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Karim, maka seharusnya kita memiliki budi pekerti yang luhur sehingga ia akan hidup dalam derajat yang mulia, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia. Kita juga harus berusaha menghindari akhlak yang tercela yang membuat kita menjadi hina baik di hadapan Allah swt. maupun di hadapan sesama.

Al Mukmin artinya Yang Maha Memberi Keamanan. Allah swt. adalah satu-satunya dzat yang menjadi sumber rasa aman dan keamanan. Mukmin yang sejadi adalah mukmin yang mengharap keamanan dari Allah swt. Tidak meminta keamanan dan perlindungan dari yang selain Allah swt. Menurut Al Ghazali mengartikan Al Mu’min dikembalikannya rasa aman dan keamanan, ditutupnya segala jalan yang menimbulkan rasa takut. Rasa aman akan tergambar pada saat seorang manusia mengalami ketakutan. 

Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Mu’min seharusnya kita meneladani sifat Allah tersebut, yaitu satu sama lainnya saling memberi rasa aman dan keamanan sehingga terciptalah suasana yang nyaman. Demikian pula kita harus menghindari dari melakukan hal-hal yang dapat membuat orang lain merasa takut atau mengusik ketenangan orang lain.

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.(QS. Al Hasyar {59}: 23)
Al Wakil berarti Yang Maha Mewakili. Dialah wakil yang mutlak. Dialah yang mengurusi segala sesuatu yang menjadi urusan hambaNya. Disamping itu Dia juga menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat manusia. Hanya Allah yang dapat memudahkan makhlukNya dari kesusahan yang dihadapi hambaNya.
Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (QS. Al Ahzab [33]: 48)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Wakil, maka kita akan sadar bahwa hanya Allah tempat menggantungkan diri kepada Allah. Sebab selain Allah tiada yang dapat mencukupi segala kekurangan. Kita juga akan saling menjaga terhadap sesama, tidak suka mengganggu ketenangan orang lain aplagi mengancam keselamatan orang serta suka menteror orang lain.

Al Matin berarti Yang Maha Kokoh. Allah adalah dzat yang mempunyai kekuatan yang sempurna. Kekuatan-Nya terbebas dari kelemahan. KekuatanNya yang kokoh tidak bisa digoyahkan oleh perbuatan makhluk-Nya. Kekuatan-Nya berdiri sendiri dan tiada yang membantu dalam kekuatan.

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Matin, maka kita akan sadar jika meminta pertolongan meminta hanya pada Allah swt saja. Tidak akan meminta kepada yang lain. Karena hanya Allah yang memiliki kekuatan yang sempurna. Kita juga akan terhindar dari sikap sombong, karena kita sadar bahwa kemampuan kita terbatas, jauh dari sifat sempurna.

Al Jami’ berarti Yang Maha Mengumpulkan. Allah swt. adalah dzat yang menghimpun manusia pada hari kiamat kelak. Allah pula yang mengumpulkan bagian-bagian tubuh manusia yang berserakan, lalu dibangkitkan kembali dari alam kubur. Tidak ada seorang hamba yang lepas dari himpunan-Nya, baik mereka yang ada di pemakaman maupun mereka yang mati secara tidak wajar seperti mati tenggelam, di makan binatang buas dan lain sebagainya. Semua akan dihimpun oleh Allah mulai dari manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir nanti.

Katakanlah: "Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(QS. Al Jatsiyah [45] : 26)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Jami’, maka akan membuat kita sadar bahwa kita suatu saat akan mati dan suatu saat akan dikumpulkan di sebuah tempat yang bernama padang makhsyar, menunggu pennetuan nasib di akhirat apa akan bertempat di surga atau neraka. Dengan demikian kita akan hati-hati dalam bertindak dan berbuat karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Al-‘Adl berarti adil. Maksudnya, Allah swt. adalah dzat yang maha adil. Keadilan Allah swt. terhadap makhluk-Nya meliputi segala hal, baik yang menyangkut urusan keduniaan maupun urusan akhirat.

Allah swt. memberi rezeki kepada setiap makhluk asalkan mau berusaha. Demikian pula dalam hal ibadah, Allah swt. tidak pernah membedakan cara ibadah antara hamba yang satu dengan hamba yang lain. Semua sama, kaya dan miskin mempunyai kewajiban ibadah yang sama. Allah swt, berfirman dalam ayat berikut ini.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Allah melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. An-Nahl [16]: 90)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Adlu kita senantiasa bersikap husnudzan (postif thinking) kepada Allah terhadap semua ketentuan Allah. Kita akan senantiasa bersyukur kepada Allah atas ketentuan Allah yang adil yang kita terima. Disamping itu kita juga harus meneladani sikap ini dengan menerapkan sikap adil terhadap sesama.

An Nafi berarti Pemberi Manfaat Allah swt. telah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling baik dan semopurna serta telah memberikan karunia yang membuat manusia menjadi makhluk yang unggul di antara makhluk yang lain. Karunia tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia yaitu akal, kalbu, fitrah, dan iman. 

Kasih sayang Allah swt. Tidak henti-hentinya diberikan kepada manusia, seperti kebaikan yang telah diciptakan-Nya. Jika seorang mengamati alam semesta ciptaan Allah swt. maka semua ada manfaatnya bagi manusia. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Allah swt.
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri (QS.An Nisa’ (4) : 79)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Akhir maka kita

Al-Baasith adalah nama Allah yang menyertai bahkan tak terpisahkan dengan nama sebelumnya, yaitu Al-Qaabidh. Jika Al-Qaabidh bermakna menyempitkan, maka Al-Baasith berarti sebaliknya, Maha Melapangkan. Kata al-Baasith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi “memperluas” atau ”melapangkan”.

Ayat di atas mengandung pesan yang tegas, bahwa terhadap distribusi rizki yang tidak merata itu jangan disikapi dengan suudzan, berburuk sangka seolah-olah Allah tidak adil kepada hamba-hamba-Nya. Pesan itu menjadi semakin terang setelah Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Basith maka kita seharusnya 

Allah Yang Maha Memelihara,
Allah tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang bisa memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Al-Baqarah: 255)
Di antara ribuan ayat Al-Qur’an, ayat di atas me¬rupakan yang paling favorit dan paling banyak dihafal. Ayat itu dikenal kaum muslimin sebagai Ayat Kursi, yang dibaca dalam majelis-majelis dzikir, juga saat menghadapi momen-momen tertentu.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT sangat sibuk mengurus semua makhluk-Nya hingga Dia tidak pernah mengantuk maupun tertidur. Bayangkan jika sedetik saja benda-benda angkasa lepas dari pengawasan-Nya lalu beredar di luar garis orbitnya, apa yang terjadi? Bumi, bulan, matahari, planet, galaksi, supergalaksi, super-supergalaksi saling berbenturan, bertabrakan, dan hancur berkeping-keping. Hanya karena Dia Al-Hafizd, Yang Maha Pemelihara semua berjalan pada garis edarnya. 
“Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu.” (Al-Anbiyaa: 32)
Coba bayangkan ketika kita selamat sampai di kantor, betapa sibuk-Nya Allah menyelamatkan kita. Ratusan kendaraan yang berpapasan dengan kita diatur-Nya sehingga tidak bertabrakan dengan kendaraan kita. Ratusan sopir distel pikirannya agar menyetir di jalurnya, berhenti saat lampu merah menyala, meminggirkan sedikit kendaraannya ketika hendak berpapasan dengan kendaraan kita, dan menghidupkan lampu sain saat hendak belok ke kanan atau ke kiri. Allah juga yang menjaga para sopir itu agar tidak mengantuk. Berapa banyak orang yang dihalangi langkahnya ketika hendak menyeberangi jalan saat kita melintasinya? Semua itu af’alullah (perbuatan Allah) yang tak kita sadari.
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Ra’du: 11)
Kesehatan yang kita nikmati adalah tanda-tanda pemeliharaan-Nya. Betapa banyak virus dan penyakit yang mengitari kita. Udara yang kita hirup, air yang kita minum dan kita pakai untuk bersih-bersih, semuanya tidak ada yang steril seratus persen dari bakteri, virus, dan penyakit. Lalu kenapa kita tetap sehat? Bukan karena kita imun, bukan karena kita memiliki ketahanan tubuh yang prima. Semua ini terjadi karena Allah hendak memelihara kita. Allah masih sayang kepada kita.

Siapa yang menjaga kita saat kita tidur? Siapa yang mengembalikan ruh kita saat kita terbangun? Siapa yang mencegah niat orang jahat? Siapa mencegah orang yang hasud, iri hati, dan dengki? Katakan, siapa yang menyelamatkan kita? Siapa yang menyehatkan kita?

Lalu, apakah ketika sakit berarti kita ditinggalkan-Nya? Sama sekali tidak. Melalui sakit kita diingatkan agar merasakan kehadiran-Nya, agar kita memanggil nama-Nya, meminta pertolongan-Nya dan berdo’a kepada-Nya. Biasanya, di kala sakit kita baru merenungkan apa saja yang pernah kita lalui. Melalui sakit kita diingatkan untuk kembali ke jalan-Nya.

Al-Junaid Al-Baghdadi berkata: Bala adalah penerang bagi orang yang arif, kebangkitan bagi orag yang menghendaki ridha Allah, dan kebaikan bagi orang-orang mukmin. Sesungguhnya sakit atau musibah adalah peringatan atau pemeliharaan Allah atas iman dan akidah kita. Jika kita menerimanya dengan sabar dan ridha, maka pahalanya akan dilipatgandakan. Allah berfirman dalam hadits Qudsyi: “Tidak ada seorang hamba pun yang terkena musibah lalu berpegang kepada-Ku, kecuali Aku akan memberinya sebelum ia meminta dan Aku mengabulkannya sebelum ia berdo’a. Dan tiada seorang hamba pun yang terkena musibah lalu bergantung kepada makhluk selain Aku, kecuali Aku tutup pintu-pintu langit baginya.” Ya Hafidz, peliharalah iman kami sampai kami menghadap-Mu kembali.

Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Hafidz maka kita

Al Akhiru berarti yang Maha Akhir. Allah swt. adalah Dzat Yang Maha Akhir (kekal). Akhir bagi Allah tidak ada ujung dan tanpa batas. Setelah semua makhluk musnah, Allah swt. akan tetap ada dan tidak akan mengalami kemusnahan. Berbeda dengan makhluk-Nya yang akan mengalami kepunahan dan kemusnahan. Setiap makhluk akan mengalami akhir baik. Makhluk hidup akan berakhir dengan kematian. Sedangkan benda mati akan mengalami kepunahan seperti lapuk yang kemudian hancur lebur.
Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Hadīd [57]: 3)
Dengan memahami dan menghayati makna asmaul husna Al Akhir maka kita menjadi sadar bahwa Allah saja yang akan kekal sementara hidup kita akan berakhir. Berangkat dari kesadaran tersebut, maka kita tidak akan lupa diri dan terlena dengan kehidupan dunia yang sementara ini. Kita juga giat mempersiapkan diri dengan bekal ibadah yang akan kita bawa ke alam akhirat.

Posting Komentar Blogger