وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(148)
Artinya :
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ(32)
Artinya :
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

http://www.ponpeshamka.com/2015/11/memahami-ayat-tentang-berkompetensi.html

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(97)
Artinya :
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Setelah ayat-ayat yang lalu menyampaikan ancaman bagi yang durhaka dan janji bagi yang taat, ayat ini menampilkan prinsip yang menjadi dasar bagi pelaksanaan janji dan ancaman itu. Prinsip tersebut berdasar keadilan, tanpa membedakan seseorang dengan yang lain kecuali atas dasar pengabdiannya. Prinsip itu adalah “barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, apapun jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia adalah mukmin, yakni amal yang dilakukannya lahir atas dorongan keimanan yang shahih, maka sesungguhnya pasti akan Kami berikan kepadanya masing-masing kehidupan yang baik di dunia ini dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka semua di dunia dan di akhirat dengan pahala yang lebih baik dan berlipat ganda dari apa yang telah mereka kerjakan.

Kata “shalih” difahami dalam arti baik, serasi atau bermanfaat dan tidak merusak. Seseorang dinilai beramal shaleh, apabila ia dapat memelihara nilai-nilai sesuatu sehingga kondisinya tetap tidak berubah sebagaimana adanya dan dengan demikian sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat. Dicakup juga oleh kata beramal shaleh upaya seseorang menemukan sesuatu yang hilang atau berkurang nilainya, tidak atau kurang berfungsi dan bermanfaat, lalu melakukan aktivitas (perbaikan) sehingga yang kurang atau hilang itu dapat menyatu kembali dengan sesuatu itu. Yang lebih baik dari itu adalah siapa yang menemukan sesuatu yang telah bermanfaat dan berfungsi dengan baik, lalu ia melakukan aktivitas yang melahirkan nilai tambah bagi sesuatu itu, sehingga kualitas dan manfaatnya lebih tinggi dari semula.

Al-Qur’an tidak menjelaskan tolok ukur pemenuhan nilai-nilai atau kemanfaatan atau ketidakrusakan itu. Para ulama pun berbeda pendapat. Muhammad Abduh misalnya mendefinisikan amal shaleh sebagai “segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan”. Al-Zamakhsyari, berpendapat bahwa amal shaleh adalah “segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, al-Qur’an dan atau sunnah Nabi Muhammad SAW”.

Al-Qur’an, walau tidak menjelaskan secara tegas apa yang dimaksud dengan amal shaleh, tetapi apabila ditelusuri contoh-contoh yang dikemukakannya tentang al-fasad (kerusakan) yang merupakan antonim dari keshalehan, maka paling tidak kita dapat menemukan contoh-contoh amal shaleh.

Kegiatan yang dinilai al-Qur’an sebagai perusakan antara lain adalah : a) perusakan tumbuhan, generasi manusia dan keharmonisan lingkungan, seperti yang diisyaratkan oleh ; QS. Al-Baqarah ; 205, b) keengganan menerima kebenaran; QS. Ali-Imran ; 63, c) perampokan, pembunuhan dan gangguan keamanan ; QS. Al-Maidah : 32, d) pengurangan takaran, timbangan dan hak-hak manusia ; QS. Al-‘Araf : 85, e) memecah belah kesatuan ; QS. Al-Anfal : 73, f) berfoya-foya dan bermewah-mewah ; QS. Hud : 116, g) pemborosan : QS. Al-Syuara’ : 152, h) makar dan penipuan ; QS. Al-Naml : 49, i) pengorbanan nilai-nilai agama ; QS. Ghafir : 26, j) kesewenang-wenangan ; QS. Al-Fajr : 11-12 dan lain-lain.

Usaha untuk menghindari dan mencegah hal-hal diatas merupakan bagian dari amal shaleh. Semakin besar usaha tersebut, semakin tinggi nilai kualitas hidup manusia. Demikian sebaliknya. Tentu saja yang disebut di atas adalah sekedar contoh-contoh. Sungguh sangat luas lapangan amal shaleh yang terbentang di bumi ini.

Kata “وهو مؤمن” menggarisbawahi syarat mutlak bagi penilaian keshalehan amal. Keterkaitan amal shaleh dan iman menjadikan pelaku amal shaleh melakukan kegiatannya tanpa mengandalkan imbalan segera, serta membekalinya dengan semangat berkorban dan upaya beramal sebaik mungkin.

Setiap amal yang tidak dibarengi dengan iman, maka dampaknya hanya sementara. Dalam kehidupan di dunia ini terdapat hal-hal yang kelihatan sangat kecil, bahkan boleh jadi tidak terlihat oleh pandangan, tetapi justru merupakan unsur asasi bagi sesuatu. Setetes racun yang diletakkan di gelas yang penuh air, tidaklah mengubah kadar dan warna cairan gelas itu, tetapi pengaruhnya sangat fatal. Kekufuran/ketiadaan iman yang bersemai di hati orang kafir, bahkan yang mengaku muslim sekalipun, merupakan nilai yang merusak susu sebelanga atau racun yang mematikan. Karena itulah sehingga berkali-kali al-Qur’an memperingatkan pentingnya iman menyertai amal, karena tanpa iman kepada Allah SWT amal-amal ini akan menjadi sia-sia belaka. Allah menegaskan :
 “Dan Kami hadapi segala amal (baik) yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (QS. Al-Furqan : 23)

Kata “thayyibah” yang dirangkai dengan “hayat thayyibah” bermakna dengan kehidupan yang baik disini mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan memperoleh kehidupan yang berbeda dengan kehidupan orang kebanyakan. Yang perlu digarisbawahi disini adalah “hayat thayyibah” itu bukan berarti kehidupan mewah yang luput dari ujian, tetapi ia adalah kehidupan yang diliputi oleh rasa lega, kerelaan serta kesabaran dalam menerima cobaan dan rasa syukur atas nikmat Allah.

Dengan demikian yang bersangkutan tidak merasakan takut yang mencekam atau kesedihan yang melampaui batas, karena dia selalu menyadari bahwa pilihan Allah SWT adalah yang terbaik dan dibalik segala sesuatu ada ganjaran yang menanti. Seorang yang durhaka, walau ia kaya tidak pernah merasa puas, selalu ingin menambah sehingga selalu merasa miskin dan selalu diliputi oleh kegelisahan, rasa takut tentang masa depan dan dari lingkungannya. Dari sini dia tidak menikmati “hayat thayyibah” itu. Masih ada sekian pendapat lain tentang makna “hayat thayyibah” dimaksud, misalnya kehidupan di sorga kelak, atau di alam barzakh atau kehidupan yang diwarnai oleh qana’ah (rasa puas dengan perolehan) atau rezki yang halal. Hemat penulis, makna-makna tersebut merupakan bagian dari kehidupan yang baik itu. Siapa yang memperoleh kehidupan yang baik seperti pendapat pertama, niscaya dia akan memperoleh semua apa yang disebut “hayat thayyibah”.


Ayat ini merupakan salah satu ayat yang menekankan persamaan antara pria dan wanita. Sebenarnya kata “مَنْ” yang terdapat pada awal ayat ini sudah menunjukkan kedua jenis kelamin laki-laki dan perempuan tetapi guna penekanan dimaksud, sengaja ayat ini menyebut secara tegas kalimat “baik laki-laki maupun perempuan”. Ayat ini juga menunjukkan betapa kaum perempuan pun dituntut agar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik untuk diri dan keluarganya, maupun untuk masyarakat dan bangsanya, bahkan kemanusiaan seluruhnya.

Demikianlah tafsiran ayat Alqur'an mengenai Memahami Ayat Tentang Berkompetensi Dalam Kebaikan, semoga bermanfaat. 

Posting Komentar Blogger