Penjelasan iman dan kufur menurut perspektif aliran kalam - Iman dan kufur menurut aliran khawarij, aliran murji’ah, aliran muktazilah, aliran as’ariyah dan aliran maturidiyah dapat disimpulkan sebagai berikut :

Iman dalam pandangan Khawarij, tidak semata-mata percaya kepada Allah. Mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan. Segala perbuatan yang berbau religius, termasuk didalamnya masalah kekuasaan adalah bagian dari keimanan (al amal juz’un al iman).

http://www.ponpeshamka.com/2015/11/penjelasan-iman-dan-kufur-menurut.html
Dengan demikian, siapapun yang menyatakan dirinya beriman kepaa Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, tetapi tidak melaksanakan kewajiban agama dan malah melakukan perbuatan dosa, ia dipandang kafir oleh Khawarij.

Subsekte Murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya menggambarkan apa yang ada didalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.

Murji’ah moderat adalah meraka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal didalamnya, bergantung pada dosa yang dilakukannya. Kendatipun demikian, masih terbuka kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga bebas dari siksaan neraka.

Mu’tazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti bagi pelaku dosa besar, apakah tetap mukmin atau telah kafir, kecuali dengan sebutan yang sangat terkenal al-munzilah bain al mansilatain. Setiap pelaku dosa besar, menurut Mu’tazilah menempati posisi tengah diantara posisi mukmin dan posisi kafir. Jika meninggal dunia sebelum bertobat, ia akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya. Namun, siksaan yang bakal diterimanya lebih ringan daripada siksaan orang kafir.

Menurut Al-Asy’ari, iman adalah tashiq bi al-qaib (Membenarkan dengan hati). Jadi, bagi Al-Asy’ari  dan juga Asy’ariyah, persyaratan minimal untuk adanya iman hanyalah tashdiq, yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk Syahadatain.

Aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan. Keimanan itu tidak cukup hanya dengan perkataansemata, tanpa diimani pula oleh kalbu. Apa yang diucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak mengakui ucapan lidah. Al-Maturidi tidak berhenti sampai di situ. Menurutnya, tashdiq, saperti yang dipahami di atas, harus diperoleh dari ma’rifah, tashdiq hasil dari ma’rifah ini didapatkan melalui penalaran akal, bukan sekadar berdasarkan wahyu

Posting Komentar Blogger