وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ(9)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(10)وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ(11)وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ(12) لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ(13)

Artinya :  Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui". Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat ni`mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. 

Ayat yang lalu mengemukakan pengalaman generasi masa lalu yang menjadi perumpamaan bagi generasi masa kini dan mendatang. Ayat di atas bagaikan menyatakan ; maka jika engkau Nabi Muhammad SAW menanyakan kepada mereka tentang kesudahan sebagian dari mereka, niscaya pasti mereka menguraikannya kepadamu, karena peninggalan umat yang lalu itu dapat mereka lihat dalam perjalanan dagang mereka keluar Mekah. 

Dan sungguh aku bersumpah jika engkau menanyakan juga kepada mereka bukti kuasa Allah yang lebih besar dari pembinasaan itu, yakni dengan bertanya siapakah yang menciptakan langit yang demikian tinggi dan kukuh dengan bintang-bintang yang menghiasinya dan siapa juga yang menciptakan bumi dengan segala sarana hidup dan aneka keindahannya. Niscaya mereka secara spontan dan senantiasa menjawab ; mereka yakni langit dan bumi serta semua yang berada di sana atau antar keduanya, semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. 

Penutup ayat di atas yang menyangkut dua sifat Allah SWT, boleh jadi bukan kalimat serupa yang digunakan oleh kaum musyrikin dalam menjawab pertanyaan di atas. Ini karena di beberapa ayat yang lain, pertanyaan serupa mereka jawab dengan kata “Allah”. Agaknya kedua sifat-Nya itu yang disebutkan disini untuk mengisyaratkan bahwa hanya Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui, selain-Nya tidak demikian.

Hal ini menjadi bukti pula bahwa hanya Dia yang menciptakan alam raya, apalagi alam raya yang demikian hebat tidak dapat tercipta kecuali oleh siapa yang menyandang kedua sifat itu. Dengan demikian, penyebutan kedua sifat tersebut mengandung juga penekanan tentang keburukan sifat mereka yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Ibn Asyur memahami ayat di atas bagaikan menyatakan ; sungguh jika engkau bertanya kepada mereka tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka pasti menjawab “Allah”, dan jika engkau bertanya apakah Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.... Demikian Ibn Asyur.

Setelah ayat yang lalu (ayat 9) menyebut secara umum penciptaan Allah terhadap langit dan bumi, kini ayat di atas (ayat 10) merinci sebagian dari kehebatan ciptaan-Nya itu sambil mengarahkan pembicaraan secara langsung kepada manusia, khususnya mereka yang mengkufuri-Nya. Allah SWT berfirman ; Allah yang menciptakan langit dan bumi itu. Dia juga yang menjadikan pada dasarnya untuk kamu bumi sebagai tempat yang mantap dan nyaman tidak goyang atau oleng agar kamu dapat tinggal menetap dengan aneka kemudahan yang dapat mengantar kepada kenyamanan hidup kamu dan untuk itu antara lain 

Dia menjadikan untuk kamu yakni membuat dan menganugerahkan kamu potensi untuk membuat jalan-jalan di sana yakni di bumi ini supaya kamu mendapat petunjuk menuju arah yang kamu kehendaki atau menuju pembuktian tentang keesaan dan kekuasaan Allah. Dan Dia juga Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui itu menurunkan secara berangsur-angsur dan sedikit demi sedikit air hujan dari langit menurut kadar yang diperlukan untuk minuman kamu dan binatang serta pengairan tumbuh-tumbuhan, lalu kami hidupkan dengannya yakni dengan air itu negeri yakni daerah tandus yang mati yang sebelumnya tidak ditumbuhi pepohonan, seperti itulah menghidupkan sesuatu yang mati, kamu akan dikeluarkan dari dalam kubur dengan amat mudah. 

Ayat di atas beralih gaya pesona ketiga pada firman-Nya ; ja’ala lakum/Dia menjadikan kamu kepesona pertama pada firman-Nya ; fa ansyarna/kami hidupkan dengannya. Pengalihan gaya itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa penumbuhan tumbuhan dan menghidupkan yang mati sungguh jauh lebih hebat daripada menurunkan hujan dan bahwa hal itu hendaknya menjadi perhatian dan renungan setiap orang.

Kata mahda atau mihad pada mulanya berarti sesuatu yang dihamparkan. Penghamparan bumi tidaklah bertentangan dengan sifatnya yang bulat lonjong. Apalagi disini yang ingin ditekankan bukan tentang penciptaannya, tetapi manfaat yang dapat ditarik darinya. Disisi lain ke mana pun kaki melangkah, atau mata memandang seseorang akan mendapati bumi ini datar atau mudah dilalui. 

Penegasan ayat di atas bahwa Allah menurunkan hujan secara bertahap dan dengan kadar tertentu, mengisyaratkan bahwa turunnya hujan bukanlah secara otomatis tanpa pengaturan Allah SWT, tetapi Dia yang mengatur turunya dan dengan kadar yang telah ditetapkan-Nya. Ini melalui hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya dan juga atas dasar doa dan shalat istisqa’ yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ayat 10 di atas menunjukkan keesaan dan kuasa-Nya menciptakan dan mengatur alam raya, sedangkan

Ayat 11 menguraikan kuasa-Nya mencipta kembali dan membangkitkan manusia sesudah kematiannya. Ini dengan menguraikan tentang hujan yang bermula dari dari laut dan sungai, lalu menguap ke udara dan kembali lagi ke bumi. Dengan air yang diturunkan itu juga Allah menghidupkan tanah yang tadinya tandus. Demikian kedua ayat di atas mengisyaratkan dua prinsip pokok keimanan, keesaan Allah dan keniscayaan kiamat yang keduanya seringkali mewakili rukun iman lainnya.

Ayat 12 di atas masih merupakan lanjutan dari bukti-bukti kekuasaan Allah. Disini diuraikan pencipaan segala macam pasangan. Ayat di atas bagaikan menyatakan ; dan Dia yang menciptakan pasangan-pasangan makhluk semuanya. Tidak ada ciptaan-Nya yang tidak berpasang-pasangan. Itu karena semua berkekurangan dan hanya dapat mencapai kesempurnaannya jika menemukan pasangannya. Hanya Dia Sang Pencipta itu Yang Maha Mengetahui tanpa pasangan. 

Dan di samping itu, Dia juga menjadikan yakni menundukkan untuk kamu bahtera di lautan dan binatang ternak yang kamu kendarai di daratan. Itu dilakukan-Nya supaya kamu selalu dapat mengendarai dan duduk di atas punggung-punggungnya dengan tenang dan mantap, kemudian kamu mengingat dengan pikiran dan hati kamu nikmat Tuhan penundukkan kendaraan itu dan pemeliharaan kamu, apabila kamu telah mantap berada di atasnya dan supaya kamu mengucapkan dengan lidahmu sehingga bergabung hati, pikiran dan lidah pujian kepada-Nya sebagai pengakuan atas kelemahan kamu mengendalikan dan menguasainya dengan menyatakan “Maha Suci Tuhan Pemeliharaan kami yang telah menundukkan bagi kami semua ini, padahal kami sebelumnya yakni sebelum Allah menganugerahkan potensi kepada kami untuk menundukkannya bukanlah orang-orang yang mampu menguasainya dan sesungguhnya kami kepada Tuhan kami Yang Maha Esa saja – tidak kepada selain-Nya – kami adalah orang-orang yang pasti akan kembali kepada Allah sang Pencipta dengan kematian untuk mempertanggungjawabkan semua amal kami.

Yang dimaksud dengan pasangan-pasangan buka saja jenis kelamin makhluk hidup, tetapi dapat mencakup benda-benda yang tak bernyawa. Ketika menafsirkan surat Yasin ; 36, penulis antara lain mengemukakan bahwa dari segi bahasa kata azwaj adalah bentuk jamak dari kata zawj yakni pasangan. Kata ini – menurut para pakar al-Qur’an al-Raghib al-Asfahani digunakan untuk masing-masing dari dua hal yang berdampingan atau bersamaan, baik jantan maupun betina, binatang (termasuk binatang berakal, yaitu manusia) dan juga digunakan menunjuk kedua yang berpasangan itu. 

Dia juga digunakan menunjuk hal yang sama bagi selain binatang seperti alas kaki. Selanjutnya al-Asfahani menyatakan bahwa berpasangan tersebut bisa akibat kesamaan dan bisa juga karena bertolak belakang. Itu dari segi bahasa. Ayat-ayat al-Qur’an pun menggunakan kata tersebut dalam pengertian umum, bukan hanya untuk makhluk hidup.

Seperti firman Allah “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat (kebesaran Allah)” (al-Zhariyat ; 49). Dari sini ada malam ada siang, ada senang ada susah, ada atas ada bawah dan demikian seterusnya. Semua selama dia makhluk memiliki pasangan. Hanya sang Khalik Allah SWT yang tidak ada pasangan-Nya, tidak ada pula sama dengan-Nya. Dari segi ilmiahterbukti bahwa listrik pun berpasangan, ada arus positif dan ada arus negatif. Demikian juga atom yang tadinya diduga merupakan wujud yang terkecil dan tidak dapat dibagi, ternyata ia pun berpasangan, yakni terdir dari elektron dan proton.

Yang dimaksud dengan menyebut-nyebut atau mengingat nikmat Tuhanmu apabila kamu yang menumpang telah meminta berada di atasnya, baik kapal atau binatang itu adalah nikmat-nikmat-Nya yang mengantar mereka melalui kendaraan itu mencapai arah yang dituju atau menyangkut barang-barang mereka dan lain sebagainya. Penyebutan nikmat-nikmat itu mengundang ucapan al-Hamdulillah dan penggunaannya sesuai petunjuk Allah. Karena itu saat mengendarai, ayat di atas mengajarkan ucapan penyucian Allah dari segala kekurangan yakni dengan bertasbih menyatakan “subhana allazhi sakhkharalan hazha”. Demikian ayat di atas mengajarkan penggabungan antara tasbih dan tahmid.

Kata sakhkhara (سَخَّرَ) berarti menundukkan. Penundukkan binatang terlaksana dengan penciptaannya dalam kondisi yang menjadikannya dapat dijinakkan dan dilatih serta memahami maksud manusia ketika menggunakannya. Sedangkan penundukkan laut, antara lain dengan menciptakan hukum-hukum alam yang berkaitan dengan laut, sungai, angin serta pengilhaman manusia untuk memilih bahan-bahan dan cara-cara pembuatan kapal.

Ucapan yang diajarkan pada ayat di atas merupakan salah satu bukti betapa Islam mengajarkan perlunya menyadari kedudukan manusia sebagai khalifah dfi bumi. Seorang khalifah dituntut mengelola bumi dengan segala isinya dengan memperlakukannya sebagai “sahabat” buka penakluk. Manusia – seperti pengakuan yang diajarkan ayat di atas – pada hakikatnya tidak memiliki kemampuan untuk menundukkan bumi dengan segala isinya. Yang menundukkan adalah Allah SWT untuk kepentingan manusia.

Dari sini, manusia harus menyadari kelemahannya dan menyadari pula bahwa kalau buka karena penundukkan ilahi, manusia tidak akan mampu mengendalikan binatang yang ditungganginya. Dengan demikian, ide penaklukan manusia terhadap alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Ia hanya dikenal oleh mitos Yunani kuno yang beranggapan bahwa alam merupakan dewa-dewa yang sering kali menghalangi manusia meraih manfaat atau berusaha menimpakan bencana kepada mereka. Dan karena itu alam adalah musuh yang harus ditaklukkan. Pandangan tersebut secara sadar atau tidak dianut sementara pemikir dari Barat, bahkan tersurat dalam Perjanjian Lama (baca Kejadian 28). 

Diriwayatkan bahwa Rasul SAW apabila mengendarai kendaraan (binatang) bertakbir tiga kali lalu membaca tuntunan ayat di atas “subhana allazhi sakhkharalana hazha” dan seterusnya, kemudian berdoa ; 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِيْ هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرِنَا وَاطْوِلَنَا البَعِيْدَ , اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِيْ السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةِ فِيْ الأَهْلِ , اَللَّهُمَّ اصْحَبْنَا فِي سَفَرِنَا وَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِهَا

Artinya : Ya Allah aku bermohon dalam perjalanan ini, kebajikan dan ketaqwaan dan amal yang engkau ridhai. Ya Allah peringanlah bagi kami perjalanan kami dan lipatlah yang jauh. Ya Allah engkaulah teman dalam perjalanan dan serta pemelihara keluarga (yang ditinggal). Ya Allah temanilah kami dalam perjalanan ini dan peliharalah keluarga kami. 

Sedang bila beliau kembali dari perjalanan, beliau berucap : 

اَئِبُوْنَ تَائِبُوْنَ إِنْ شَاءَ اللهُ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

Artinya : Kami kembali, kami bertaubat, insya Allah kami adalah pengabdi-pengabdi serta Tuhan pemelihara kami, kami selalu menjadi pemuji-pemuji” (HR. Muslim) 

Al-Ankabut ; 17 

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ(17)

Artinya : Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

Ayat yang lalu menceritakan tentang pengalaman Nabi Nuh as dan cobaan Nabi Ibrahim as yang dilempar ke dalam api yang berkobar. Ujian yang dihadapinya pun juga beraneka ragam. Selanjutnya Nabi Ibrahim mengecam kaumnya dengan menyatakan “tidak lain apa yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhal-berhala dan kamu senantiasa membuat pemutarbalikan”, yakni kebohongan dengan menamai apa yang kamu buat sendiri sebagai penguasa atas dirimu serta apa yang tunduk kepada kamu jadikan dirimu tunduk kepadanya.

Memang manusia senantiasa membutuhkan bantuan dan rezeki sehingga jiwanyha selalu mendambakan sandaran yang kuat, tetapi sandaran itu haruslah yang Maha Kuasa. Kamu menyembah berhala-berhala itu dengan harapan dapat memberi kamu manfaat dan perlindungan serta menganugerahkan rezeki kepada kamu, padahal sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah siapa pun dia, pasti tidak mampu memberikan perlindungan dan rezeki kepada kamu walau sedikit dan betapapun kamu menyembah dan bermohon kepadanya.

Karena itu, maka minta dan berusahalah dengan sungguh-sungguh guna memperoleh rezeki dan perlindungan itu disisi Allah, karena Dialah sumber rezeki dan sandaran yang amat kokoh dan disamping itu sembahlah Allah sebagaimana yang diajarkan oleh-Nya melalui rasul dan bersyukurlah kepada-Nya semata-mata, apalagi hanya kepada-Nya kamu akan kembali, yaitu putusan akhir di tangan Allah. Dia yang menentukan segala sesuatu, baik didunia maupun di akhirat.

Kata autsan (أوثان) adalah bentuk jamak dari kata watsan (وثن) yaitu berhala yang berupa batu atau yang terbuat dari kayu dan memiliki bentuk seperti manusia atau hewan yang mereka pilih atau buat untuk disembah. Kata ini lebih khusus daripada kata ashnam (أصنام), karena yang ini adalah berhala yang disembah walau hanya batu yang tidak berbentuk. Masyarakat Arab pada masa jahiliyah memilih batu-batu yang mereka senangi lalu menyembahnya. 

Bahkan para musafir pada masa jahiliyah memilih empat batu lalu yang terbaik mereka sembah dan tiga lainnya mereka jadikan tumpu buat periuk mereka. Bentuk nakirah pada kata autsan yang digunakan pada ayat ini mengesankan keremehannya sekaligus mengisyaratkan bahwa kepercayaan tentang ketuhanan berhala-berhala itu adalah kepercayaan sesat yang tidak berdasar serta merupakan kebohongan dan pemutarbalikan fakta

Kata rizqan (رزقا) yang berbentuk nakirah dalam konteks menafikan kemampuan berhala-berhala untuk memberinya – bentuk nakirah itu – mengandung makna sedikit yaitu “walau sedikit rezki”. Sedang penggunaan bentuk ma’rifah (الرزق) ketika berbicara tentang rezeki yang ada pada Allah, mengandung makna keumuman sehingga mencakup segala macam dan jenis rezeki, banyak atau sedikit. Suatu kata yang menunjuk jenis dan dikemukakan dalam bentuk ma’rifah, berfungsi semacam nakirah dan bila dua kata nakitah yang sama terulang dalam satu redaksi, maka yang disebut pertama berbeda dengan rezeki yang disebut berikutnya. Dalam konteks ayat di atas rezeki yang disebut pertama, berbeda dengan rezeki yang disebut kedua.

Kata fabtaghu (فابتغوا) terambil dari kata bagha (بغى) yang antara lain berarti meminta atau menuntut sesuatu melebihi batas moderasi, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Dari sini ia biasa difahami dalam arti pelampauan batas walau dalam permakaiannya tidak selalu dalam arti negatif. Tergantung dari konteks uraian. Kata itu disini bukan dalam arti negatif, karena ini adalah firman Allah yang memerintahkan meminta dan mencari rezeki apa yang ada di sisi-Nya, yakni yang banyak, baik dan halal.

Penambahan huruf ta pada kata yang digunakan ayat di atas mengandung makna kesungguhan. Ini mengisyaratkan anjuran untuk bersungguh-sungguh mencari rezeki dan bahwa perolehan rezeki pada dasarnya harus dengan upaya sungguh-sungguh, karena langit tidak mencurahkan emas dan perak.

Posting Komentar Blogger