Profil Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka - Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka telah berdiri ± 25 tahun yang silam tepatnya tahun 1989 M di daerah Maninjau Kecamatan Tanjung Raya Kab. Agam. Telah banyak alumni yang ditamatkan, diantara mereka banyak yang berkiprah sebagai pendakwah, wirasawasta, guru, dosen, dan sebagainya.

Pendirian Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka berawal dari pertemuan Buya Hamka (Alm) dengan bapak Presiden Suharto pada tahun 1977 M. Pada pertemuan tersebut buya Hamka menyampaikan rencananya untuk mendirikan Qutup Khanah (Perpustakaan) di Maninjau. Bapak Suharto waktu itu menyarankan agar Buya Hamka membuat Pondok Pesantren agar ada kader pelanjut dan penerus cita-cita buya Hamka kelak serta akan besar manfaatnya bagi masyarakat, usulan tersebut di iringi dengan janji akan memberi bantuan dana sebesar Rp. 52.000.000,- ( lima puluh dua juta rupiah ) .

Pondok Pesantren Buya Hamka Maninjau Saran dan janji dari bapak Presiden Suharto tersebut memberi semangat kepada buya Hamka untuk medirikan Pondok Pesantren, maka untuk merealisasikan janji tersebut dibentuklah Yayasan “DR. Abdul Karim Amarullah“ (nama dari ayah buya Hamka) dengan Akta Notaris nomor : 58 tahun 1977 M. Dalam Akta Notaris tersebut termasuk diantaranya adalah Bapak H. Basyir Gany (almarhum), Selanjutnya beliau ditugaskan untuk mencari tanah di Maninjau seluas 2 (dua) hektar. 

 
Oleh karena sulitnya dana untuk pembebasan tanah maka oleh bapak H. Bashir Gany (almarhum) disediakannyalah tanahnya miliknya seluas 4 (empat) hektar, dua hektar di Pangkal Tanjung dan 2 hektar lagi di Sibarasok keduanya berada di daerah Sigiran Kenagarian Tanjung Sani Kec. Tanjung Raya Kab. Agam Sumatera Barat tanpa ada biaya pembebasan tanah. 

Kemudian disampaikan ke Jakarta bahwa tanah untuk Pesantren sudah ada, maka panitia yang berada di Jakarta mengatakan bahwa kita menunggu sampai selesai pemilu tahun 1977. Ternyata akhir tahun 1977 dapat khabar dari Jakarta yang mengatakan bahwa rencana bantuan dari bapak Presiden Suharto sebesar Rp. 52.000.000,- (limapuluh dua juta rupiah) tersebut gagal atau tidak terealisasi, maka rencana pembangunan Pondok Pesantren di Maninjau terhenti beberapa waktu.

Pada Tahun 1981 Buya hamka di panggil oleh Allah swt, maka rencana pendiriran Pondok Pesantren dilanjutkan oleh Bapak Moh. Natsir, selanjutnya tahun 1982 para ulama Maninjau yang berada di kampung melakukan pertemuan yang dilaksanakan di rumah H. Udin Rahmani (Alm) yaitu di Maninjau dan dihadiri oleh H. Udin Rahmadhani (dari Maninjau), H. Bashir Gany (dari Sigiran), M.Nur Hamzah (dari Bayur), Rusdi St. Iskandar (dari Maninjau), Masni Salam Ketua DDII perwakilan Sumatera Barat, Jufri Sultani Pengurus DDII Sumatera Barat dan St. Nasar Khatib Basa (dari Koto Kaciak). Hasil dari hasil pertemuan tersebut didapatlah dua ( 2 ) kesepakatan :


  1. Untuk program jangka pendek, yaitu membentuk kader ulama dengan pembinaan selama dua tahun
  2. Jangka Panjang kembali merintis rencana pendirian Pondok Pesantren yang diberi nama dengan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka
Maka diutuslah bapak H. Bashir Gany ke Jakarta untuk menyampaikan hasil kesepakatan tersebut kepada bapak H. Mohammad Natsir. Alhamdulillah bapak H. Moh. Natsir sangat menyetujui program pembinaan tersebut yang merupakan langkah awal untuk mengatasi krisis ulama di Maninjau. Pada akhir tahun 1982 mulailah program pembinaan tersebut dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang, semuanya berasal dari daerah Danau Maninjau dengan usia diatas 17 Tahun. Dimana ketua pelaksananya adalah bapak H. Bashir Gany, dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah), keseluruhan dana berasal dari bapak H. Moh.Natsir.

Pada akhir tahun 1983 pembinaan kader ulama berakhir dengan di tutup langsung oleh bapak H.Moh. Natsir. Hasil dari pembinaan kader ulama ini cukup menggembirakan, karena sudah mampu mengatasi kekurangan mubaligh dari masing-masing daerah di sekitar Danau Maninjau, dimana sebelumnya hal ini merupakan persoalan yang sangat mendesak terutama untuk menjadi khatib pada sholat jum’at.

Enam tahun setelah itu tepatnya pada tahun 1989 M, bapak H. Bashir Gany kembali ke Jakarta untuk membicarakan rencana pembangunan Pondok Pesantren yang masih tertunda yang diadakan di rumah Buya A.R. St. Mansyur disepakati pembangunan Pondok Pesantren, dan diberilah mandat bapak H. Bashir Gany untuk mendirikan Pondok Pesantren yang disebut oleh buya Hamka dengan “ Pondok Pesantren Pembangkit Batang Tarandam “


Sekembalinya bapak H. Bashir Gany dari Jakarta, lansung dibentuk Yayasan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka, dengan Bismillahiramanirrahiim tepatnya tanggal 1 Muharam 1410 H bertepatan dengan tanggal 2 Agustus 1989 M, dimulailah kegiatan Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka yang pada awalnya bertempat di gedung SMP Muhammadiyah Bancah Bayur Kec. Tj. Raya yaitu 3 KM arah Utara dari pasar Maninjau, dengan jumlah santri 25 orang, tenaga pengajarnya disamping guru yang berasal disekitar danau Maninjau juga didatangkan dari tamatan Pesantren pulau Jawa seperti Gontor, Ngeruki Solo dan lain sebagainya. Tetapi kegiatan belajar dan mengajar di SMP Muhammadiyah Bayur ini hanya berjalan selama tiga tahun.

Alhamdulillah pada tahun 1992 kita mendapat tanah seluas 2 (dua) hektar yang diwakafkan oleh bapak Muchtar Khatib Sutan Rajo Lelo. Setelah wakaf disepakati maka orang yang mewakafkan meminta ganti rugi untuk tanaman berharga yang ditanam oleh pihak pamilinya. Atas kesepakatan antara pewaqaf dengan Yayasan serta si penanam, penggantian tanaman tersebut sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) dan dibayar tunai kepada bapak BA. Dt. Gunuang Ameh yang sekarang bergelar DT. Majo Lelo, uang tersebut di peroleh Yayasan dari bapak H. Mohammad Zen dan Hj. Nursiah orang asli Maninjau yang tinggal di Jakarta.

Pada tanggal 15 Juli 1992 M Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka pindah kelokasi baru yaitu daerah Batunanggai Maninjau, tepatnya 15 KM dari arah Selatan Ibu kota Kecamatan Tanjung Raya, Maninjau. Berhubung tanah masih kosong maka kegiatan belajar mengajar diadakan di gedung MDA Muhammadiyah Batunanggai, sedangkan santri untuk sementara ditumpangkan di rumah penduduk yang ada disekitarnya.

Sedangkan kegiatan Pondok Pesantren yang di SMP Muhammadiyah Bancah Bayur dilanjutkan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tanjung Raya dengan nama Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Bancah Bayur sekarang berubah nama menjadi SMP Muhammadiyah Bayur.

Pada akhir tahun l995 kita dapat membangun sebuah Masjid bantuan dari ibu Hj. Halimah ‘Ali Bin Abdullah sebesar Rp. 29.000.000,- (Duapuluh sembilan juta rupiah), ditambah dengan dana lain yang di usahakan pihak Yayasan, pembangunan baru selesai setelah menghabiskan dana sebesar Rp 42.000.000,- (empat puluh dua juta rupiah ).

Dengan selesainya pembangunan Masjid tersebut maka kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke masjid, artinya tidak lagi menumpang di MDA Muhammadiyah Batunanggai. Alhamdulillah, kampus PP. Prof. DR. Hamka di Batunanggai telah memiliki Ruang Belajar sebanyak enam lokal, Asrama putra dan asrama putri memiliki daya tampung masing-masing 250 (dua ratus lima puluh) orang santri, Ruang perpustakaan, rumah Ustadz/zah, ruang makan, ruang Komputer dan lain sebagainya.

Pada tanggal 30 September 2009 yang lalu, terjadi musibah gempa di Sumatera Barat, Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka Maninjau Kec. Tanjung Raya Kab. Agam Sumatera Barat termasuk yang mengalami kerusakan terparah, yaitu sebahagian besar kampus mulai dari kantor, asrama santri dan asrama guru hancur akibat gempa, kondisi ini diperparah dengan longsoran perbukitan yang berada diatas asrama Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka yang membawa lumpur, batu, dan kayu, pada akhirnya daerah tersebut tidak layak untuk dihuni lagi, Sesaat setelah gempa tepatnya jam 5 sore pada hari rabu tanggal 30 september 2009. 


Maka seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka dikumpulkan dan diberi tausiyah kemudian dibawa keluar dari daerah Batunanggai, karena hujan lebat sudah mulai turun, jika pada saat itu kita terlambat membawa warga Pondok 0,5 (setenggah) jam saja, wallahu a’lam entah apa yang akan terjadi, karena sesampainya rombongan Pondok di daerah pandan ( 1,5 km dari lokasi Pondok) telah turun longsor besar yang melanda empat Jorong dikanagarian Tanjung Sani yaitu Pandan, Galapung Batunanggai dan Muko jalan. 

Tanpa tujuan yang jelas pada saat itu Pimpinan Pondok (Drs. Zainul Arifin, MM) membawa mobil yang ditumpangi santri menuju kearah Maninjau, Karena waktu magrib sudah masuk maka singgahlah di Masjid Ummul Qura Bancah untuk melaksanakan sholat magrib, akibat kelelahan maka diambillah keputusan untuk istirahat dan bermalam di Masjid Ummul Qura Bancah sambil menghitung dan memeriksa jumlah santri PP Prof. DR. Hamka. Pada akhirnya masjid Ummul Qura ini dijadikan tempat pengungsian Pondok Pesantren Buya Hamka selama 3 (tiga) bulan. 

Selama itu pula pihak yayasan mencari tempat yang lebih kondusif untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar, pada akhirnya Masyarakat Jorong Kukuban pada bulan Desember 2009 menyediakan tempat berupa MDA yang dijadikan sebagai lokal belajar, mushalla Darussalam, Kantor Pondok Pesantren dan tanah yang dapat kita buat asrama santri dan asrama para guru, Alhamdulillah aktifitas Pondok Pesantren agak mulai stabil walaupun tetap masih ditempat pengungsian sementara.

Setelah 6 bulan berada di Jorong Kukuban, maka masyarakat Jorong Bancah dan Kukuban memberi tanah wakaf seluas 3 Ha di Kubu Gadang Jorong Kukuban Kanagarian Maninjau kec. Tanjung Raya. Lokasi ini sekitar 10 km dari Kampus lama di Batunanggai atau 2 km dari Pusat Kecamatan Tanjung Raya.

Pada saat ini di lokasi baru (Kubu Gadang) telah berdiri kampus baru Pondok Pesantren Prof. DR. Hamka dengan bantuan dari berbagai pihak diantaranya :

  1. Masjid Buya Hamka oleh yayasan satu untuk negeri TV One
  2. Lokal Belajar Tahap awal dibantu oleh yayasan wakab Arab Saudi kemudian dilanjutkan oleh yayasan satu untuk negeri TV One
  3. Asrama santri Putri dua tingkat oleh yayasan satu untuk negeri TV One
  4. Asrama Santri Putra oleh Kementerian Sosial RI
  5. Labor Bahasa oleh Yayasan Citra Mas Batam
  6. Stesyen Pengkajian Hamka oleh Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)
  7. Perpustakaan Oleh yayasan Al-Ihsan Inggris (perantau Indonesia yang berada di Inggris)
  8. Dapur dan ruang Makan Bantuan dari PPPA (Ust. Yususf Mansur)
  9. Labor Komputer
  10. Labor IPA 
  11. Ruang Keterampilan (menjahit) TPKU oleh Kementerian Koperasi.
  12. Koperasi/Toserba
  13. Perumahan guru
  14. Kantor Pimpinan, Majlis Guru dan Ruang TU
Foto Lainnya Silahkan Lihat Disini

Posting Komentar Blogger